ILMU_DAN_AGAMA

A. Pengertian Ilmu

Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang mempunyai ciri tertentu yang sesuai dengan teori dan kenyataan yang ada.

Ilmu diperoleh antara lain melalui metode ilmiah, yaitu berbagai prosedur yang mewujudkan pola-pola dan langkah-langkah dalam pelaksanaan suatu penelitian ilmiah. Prosedur tersebut antara lain : deduksi dan induksi.

Aksiologi Ilmu adalah

  1. Mencapai nilai kebenaran ilmiah.
  2. Memahami aneka kejadian.
  3. Meramalkan peristiwa yang akan terjadi.
  4. Menguasai alam untuk memanfaatkannya.

“Ilmu” adalah fenomena terbesar yang paling mewakili wujud kemanusiaan. Perkembangannya begitu cepat-dan terus menerus mengalami percepatan-dan menakjubkan. Bisa dikatakan, saat ini “ilmu” merupakan ikon keberadaban. Siapapun yang tidak berilmu (=tidak menguasai ilmu) identik dengan keprimitifan dan keterbelakangan. Tidak mengherankan kalau semua unsur kemanusiaan (pribadi, kelompok dan negara) berusaha intensif untuk “memilikinya”.
Persoalan selanjutnya adalah: bagaimana supaya ilmu tersebut membawa kemaslahatan yang sebesar-besarnya. Tentunya, makna kemaslahatan di sini sangat variatif, bergantung kepada background dan orientasi kebudayaannya.

Di dalam alquran terdapat kata-kata tentang ilmu dalam berbagai bentuk (‘ilma, ‘ilmi, ’ilmu, ‘ilman, ‘ilmihi, ‘ilmuha, ‘ilmuhum). (Ali Audah, 1997: 278-279). Delapan bentuk ilmu tersebut di atas dalam terjemah alquran Departemen Agama RI, cetakan Madinah Munawwaroh (1990) diartikan dengan: pengetahuan, ilmu, ilmu pengetahuan, kepintaran, dan keyakinan.

Sedangkan kata ’ilmu itu sendiri berasal dari bahasa arab ’alima = mengetahui, mengerti. Maknanya, seseorang dianggap mengerti karena sudah mengetahui objek atau fakta lewat pendengaran, penglihatan, dan hatinya.

Kata ilmu dalam pengertian teknis operasional ialah kesadaran tentang realitas (alam semesta). Pengertian ini didapat dari makna-makna ayat yang ada di dalam alquran:

54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ’Arsy [548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bitang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al A’raaf. 7: 54)

29. Dialah Allah, yang menjadikan segalanya yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit, dan Dia Mahamengetahui segala sesuatu (QS Al-Baqarah, 2: 29).

B. Pengertian Agama

1. Istilah agama ditinjau dari tata bahasa dalam kamus umum bahasa Indonesia :.

· Agama berarti system, prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.

· Agama menuntut penegetahuan untuk beribadat yang merupakan hubungan manusia dengan Tuhan.

2. Secara linguistik, dîn berarti ketaatan dan balasan. Penulis kitab Maqâyisul Lughah mengatakan bahwa asal dan akar kata ini berarti penghambaan dan kehinaan (tunduk). Sedang Râghib dalam Mufradâtnya  mengatakan bahwa agama berarti ketaatan dan balasan.[1] Oleh karena itu, Syâri’at dinamakan dîn karena ia lazim ditaati

3. Menurut Para pemikir Barat defenisi agama antara lain, Agama adalah insting, aksi dan kondisi spiritual yang “menjangkiti” sekelompok orang tertentu dalam kesendirian mereka di hadapan Tuhan (William James adalag seorang filsuf sekaligus psikolog berkebangsaan Amerika. Ia Hidup pada tahun 1842-1910).

Tidak mudah bagi kita untuk menentukan pengertian agama, karena agama bersifat batiniah, subjektif dan individualistis. Kalau kita membicarakan agama akan dipengaruhi oleh pandangan pribadi dan juga dari pandangan agama yang kita anut. Kata agama berasal dari sankrit, yang terdiri dari dua kata “a” yang berarti tidak dan ”gam” berarti pergi. Jadi agama berarti tidak pergi, tetap berada pada tempatnya. Ada juga yang mengartikan ”gam” sebagai tuntutan karena sifatnya yang menuntun.

Secara umum Agama dapat bermakna:

1.Penyembahan kepada kekuatan yang lebih agung dari pada manusia yang dianggap mengatur dan menguasai jalannya alam semesta.

2.Keseluruhan pendapat tentang Tuhan, dunia, hidup dan mati, tingkah laku serta baik buruknya yang berlandaskan Wahyu.

Jadi agama bertitik tolak dari adanya suatu kepercayaan terhadap sesuatu yang lebih berkuasa, lebih agung, lebih mulia dari pada makhluk.

Dalam agama, beberapa ciri yang dapat kita kemukakan antara lain :

1.Adanya kepercayaan terhadap yang gaib, kudus, dan Mahaagung, dan pecipta alam semesta (Tuhan).

2.Melakukan hubungan dengan sang pencipta (Allah) dengan berbagai cara sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Al Qur’an dan Hadist melalui pelaksanaan kewajiban manusia kepada Allah sebagai perwujudan atas pengabdian hambaNya terhadap sang Khaliq.

3.Adanya suatu ajaran (doktrin) yang harus dijalankan oleh setiap penganutnya.

4.Menurut ajaran Islam, ajaran tersebut diturunkan oleh Tuhan yang tidak langsung kepada seluruh umat manusia, melainkan melalui Nabi-nabi dan rasulnya. Maka menurut ajaran Islam adanya Rasul dan kitab suci merupakan ciri khas daripada agama.

5.Diberikan kesempatan yang begitu luas kepada manusia untuk memperdalam pemahaman tentang aqidah melalui kitab suci AlQur’an dan Hadist Nabi serta mengaplikasikannya dalam kehidupan demi keselamatan dunia dan akhirat.

Salah satu lagi ciri agama adalah berkaitan dengan tatasusila masyarakat, ini bermakna agama bukan saja merupakan soal hubungan antara manusia dengan Tuhan tetapi juga berhubungan manusia dengan manusia.

Menurut Hocking, agama merupakan obat dari kesukaran, dan kekhawatiran yang dihadapi manusia, sekurang-kurangnya meringankan dari kesukaran. Betapapun agama yang dianut oleh masyarakat pada zaman prasejarah, yang berisi kepercayaan tahayul, yang biasa kita sebut agama animisme, telah memberikan manfaatnya bagi kehidupan manusia, diantaranya: (1) mengurangi kejahatan, (2) mengurangi tindak pidana, (3) mengurangi atau menumpulkan syahwat kemanusiaannya, dan (4) membahagiakan dan menyenangkan manusia. Kesemuanya itu karena memang manusia mempercayai adanya kekuasaan yang lebih besar daripada dirinya, dan percaya adanya kehidupan yang abadi setelah kehidupan dunia ini.

Jadi, Agama adalah keseluruhan pendapat tentang Tuhan, dunia, hidup dan mati, tingkah laku, serta baik buruknya yang berlandaskan wahyu. Wahyu adalah penerangan Tuhan secara istimewa kepada manusia secara langsung atau tidak langsung.

Aksiologi Agama antara lain :

1. Agama bisa diargumentasikan. Yakni, secara logis bisa dibela, karena unsur-unsur dan ajarannya bisa diterima oleh akal sehat.

2. Agama memberikan makna dalam kehidupan. Yakni, manusia terjaga dari keputus-asaan, dan menghilangkan asumsi tak bermaknannya kehidupan.

3. Agama merupakan pemberi harapan.

4. Agama diharapkan bisa meluhurkan segala tindakan dalam masyarakat sosial.

5.Agama mengajarkan rasa tanggung jawab kepada manusia. Faktor terpenting dan terpokok dari kelima penantian (baca : manfaat) tadi adalah faktor  pertama dan  kedua.

C. Hubungan Ilmu dan Agama

Ilmu pengetahuan dimulai dengan tanpa kepercayaan dan rasa tidak percaya itu kemudian mulai dikaji dengan riset, pengalaman dan percobaan untuk sampai kepada kebenaran yang hakiki. Sementara agama bertitik tolak dari kepercayaan dan lewat pengkajian selanjutnya dapat meningkatkan atau menurunkan tingkat kepercayaan itu.

Sebagai sumber lahirnya ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan ilmiah biasanya berkenaan dengan timbulnya keheranan pada diri seseorang peneliti dalam mengamati suatu keanehan atau suatu gejala yang mendorong dilakukannya penelitian. Dalam hidup dan kehidupan ini, manusia melihat masalah lalu terus memikirkan masalah itu dan mengamatinya dengan cermat.

Nalar atau logika dan hasilnya yang berupa ilmu pengetahuan bisa berkembang dan liar, untuk menerapkannya perlu moralitas atau tanggung jawab terhadap kehidupan alam semesta serta isi alam itu sendiri. Karena fungsi kemajuan ilmu pengetahuan bukan untuk merusak melainkan membangun, disinilah peranan agama harus benar-benar sejalan dengan ilmu pengetahuan.

Seperti halnya dengan ilmu dan filsafat, agama tidak hanya untuk agama, melainkan untuk diterapkan dalam kehidupan segala aspeknya. Pengetahuan dan kebenaran agama yang berisikan kepercayaan dan nilai-nilai dalam kehidupan, dapat dijadikan sumber dalam menentukan tujuan dan pandangan hidup manusia, dan sampai kepada perilaku manusia sendiri.

Antara ke semua sumber pengetahuan itu tidak mungkin ada kontradiksi. Apa sebab? Karena kesemuanya berasal dari satu sumber yaitu Tuhan (Allah). Jika terasa ada kontradiksi, maka itu hanyalah nampaknya saja, sebenarnya bukanlah kontradiksi atau pertentangan.

Seperti yang diungkapkan dalam ayat alquran (QS Al-Hajj, 22: 8 – 9)

8.Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya

9.Dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar.

Kebanyakan kita kurang memperhatikan adanya perbedaan tingkatan pengetahuan, kemungkinan kita hanya memperhatikan salah satu soal saja hanya dari satu sudut saja dengan meniadakan sudut lain yang dikemukakan oleh ilmu lain. Akan tetapi persoalannya ialah apakah yang dianggap ”Wahyu Allah” itu betul-betul ”Wahyu Allah”. Jika itu hanya karangan manusia saja maka tentu saja antara filsafat dan karangan manusia mungkin terdapat pertentangan.

Perbandingan antara filsafat, ilmu dan agama dengan mencoba melihat unsur-unsur yang menjadi persamaan dan perbedaanya.

Pesamaannya:

1. Merupakan sumber atau wadah kebenaran (objektivitas) atau bentuk pengetahuan.

2. Dalam pencarian kebenaran ketiga bentuk pengetahuan itu masing-masing mempunyai metode, sistem dan mengolah objeknya selengkapnya sampai habis-habisan.

3. Ilmu pengetahuan bertujuan mencari kebenaran tentang Mikrokosmos (manusia), makrokosmos (alam), dan eksistensi tuhan (Allah).

Agama bertujuan untuk kebahagian umat manusia dunia akhirat dengan menunjukkan kebenaran asasi dan mutlak, baik mengenai mikrokosmos, makrokosmos, maupun tuhan (Allah) itu sendiri.

Perbedaannya:

1. Sumber kebenaran ilmu dan filsafat adalah sama, keduanya dari manusia itu sendiri dalam arti pikiran pengalaman dan intuisinya. Oleh karena itu disebut juga bersifat horizontal dan immanent. Sumber kebenaran agama adalah dari Allah di langit, karena itu disebut juga bersifat bertikal dan transendental.

2. Pendekatan kebenaran ilmu pengetahuan dengan jalan riset, pengalaman dan percobaan sebagai tolak ukurnya. Pendekatan kebenaran filsafat dengan jalan perenungan dari akal budi atau budi murni manusia secara radikal, sistematis, dan universal tanpa pertolongan dan wahyu dari Allah. Pendekatan kebenaran agama dengan jalan berpaling kepada wahyu Allah yang diturunkan dalam kitab suci Taurat, Injil, dan Alquran.

3. Sifat kebenaran ilmu pengetahuan adalah positif dan nisbi (relatif). Ilmu pengetahuan dimulai dengan keraguan dan bertanya, sesudah meyakini kebenarannya lalu menyetujuinya dan sesudah itu lantas bertanya lagi yang dimanifestasikan dalam bentuk riset, pengalaman dan percobaan. Itulah sebabnya ilmu pengetahuan itu berkembang terus sebagai hasil dinamika penelitian itu. Sedangkan sifat kebenaran filsafat adalah spekulatif yaitu suatu perenungan yang bersifat pendugaan yang mengakar (radikal) menyeluruh (integral) dan menyemesta (universal). Juga bersifat nisbi (relatif). Dimulai pula dengan keraguan (?), setelah yakin lalu setuju (!), dan sesudah itu ragu dan bertanya lagi (?) untuk mencari jawaban yang mengasas dan mendalam. Sifat kebenaran agama adalah mutlak (absolut) karena bersumber dari Dzat Yang Maha Benar, Maha Mutlak, Maha Sempurna, Maha Bijaksana yaitu: Allah. Dimulai dengan keimanan dan keyakinan (!), setelah iman dan yakin menyelidiki kebenaran yang mutlak itu (?) setelah konsisten antara keimanan dan keyakinan itu yang disebut takwa (!).

4. Tujuan ilmu pengetahuan itu hanyalah bersifat teoritis demi ilmu pengetahuan dan umumnya pengalamannya untuk tujuan ekonomi praktis atau kenikmatan jasmani manusia. Tujuan filsafat adalah kecintaan kepada pengetahuan yang bijaksana dengan hasil kedamaian dan kepuasan jiwa yang sedalam-dalamnya. Tujuan agama ialah kedamaian, keharmonisan, kebahagiaan, keselamatan, keselarasan, keridhaan (keselamatan dalam islam istilahya: ”salam” seperti ucapan Allah pada ahli sorga di akhirat).

Berdasarkan ulasan-ulasan diatas jika dikaitkan antara ilmu dan agama adalah suatu unsur yang takterpisahkan. Ilmu tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh yang artinya jika kita mempunyai ilmu yang sedemikian tinggi tanpa dilandasi atas aplikasi pengetahuan tentang agama yang mendalam maka ilmu pengetahuan sebegitu tingginya tidak terarah dan menimbulkan kemudharatan serta kerusakan dimuka bumi, sedangkan pengetahuan agama tanpa pemahaman/penguasaan ilmu yang luas akan mengakibatkan ketidakmampuan/ketiadaberdayaan dalam mengembangkan pengetahuan agama.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: