RICH_TEACHER

PARADIGMA BARU : MENJADI ‘GURU KAYA’ [1]

Oleh : Hilda Rohayati [2]

A. PENDAHULUAN

Profesi guru adalah profesi yang mulia, profesi yang luhur yang patut kita berikan penghormatan dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Guru mungkin satu-satunya profesi yang paling banyak dituntut untuk menjadi sosok ideal. Idealisasi ini muncul karena guru dianggap mampu menciptakan sumber daya manusia berkualitas. Menurut EV Pulius (Nandika, 2007 : 68) misalnya mengemukakan bahwa guru harus mampu memerankan dirinya sebagai pembimbing, guru, modernis, perantara antargenerasi, model, peneliti, konselor, pencipta, empunya kekuasaan dalam ilmu pengetahuan, pemberi inspirasi, pekerja rutin, perantara, pembawa cerita, aktor, pembuat desain, pembina masyarakat, peserta didik, penerima realitas, pengikut, pengevaluasi, pengubah, peraih cita-cita, dan manusia biasa.

Ketegangan antara peran ideal guru dan realita yang senyatanya dialami para guru mau tidak mau menempatkan guru pada posisi unik : mudah dipuja dan mudah dicerca. Jika saja guru kita benar-benar mampu melakukan perannya secara ideal maka mungkin negara ini bisa cepat beranjak dari keterbelakangan.

Berbagai upaya terus dilakukan, program revitalisasi peran guru untuk setidaknya mendekati harapan ideal yang ditentukan tentu bukanlah suatu yang ringan, karena terkait dengan aspek sosial, ekonomi, bahkan politik pembangunan pendidikan. Memang secara politis kita sudah memiliki UU NO. 14 tentang guru dan dosen, namun itu saja belum cukup. Dibutuhkan keseriusan dan dukungan berbagai pihak terkait seperti pemerintah, masyarakat, bahkan guru itu sendiri untuk mengimplementasikannya di lapangan.

Mulai awal Oktober 2007, 478 guru di Sulsel boleh berbangga hati dengan status baru sebagai ‘guru professional’, status ini juga disertai dengan jumlah penghasilan yang terbilang ‘Wah’. Bayangkan seorang guru dengan gelar S1 yang sudah berpenghasilan 1,5 juta nantinya akan mendapatkan penghasilan 3 – 4 juta. Belum lagi tunjangan lainnya. Menjanjikan Bukan? Mereka adalah guru-guru yang lulus uji sertifikasi untuk kuota 2006 yang telah diadakan oleh instansi terkait. (Kompas, 26/09/07)

Untuk meraih gelar ‘guru professional’ seorang guru harus memenuhi standar empat kompetensi sebagai guru professional seperti kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan professional. Mengacu pada Peraturan Mendiknas No. 18 tahun 2007, dalam empat kompetensi guru professional ada 10 komponen portofolio yang harus dipenuhi seorang guru antara lain :

(1) kualifikasi akademis; (2) pendidikan dan pelatihan; (3) pengalaman mengajar; (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran; (5) penilaian dari atasan dan pengawas; (6) prestasi akademik; (7) karya pengembangan profesi; (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah; (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang kependidikan.

Masing-masing komponen harus dibuktikan dengan dokumen atau bukti fisik seperti ijazah, sertifikat, piagam, surat keputusan atau karya cipta.

Sebuah pertanyaan kemudian muncul apakah usaha memenuhi 10 kompetensi tersebut di dasari sebagai bentuk usaha pencapaian kualitas diri, dalam hal sistem pengajaran ? ataukah sekedar usaha menjadi seorang guru dengan penghasilan tinggi? Kita sebut saja usaha ini menjadi seorang Guru Kaya. Kekhawatiran terhadap motif ekonomi ini bisa terjadi atau sangat besar terjadi. Maka tidak heran kalau para guru, baik yang sudah senior maupun junior bahkan calon guru pun berlomba-lomba untuk mengumpulkan sertifikat dan SK-SK lainnya karena untuk mencapai skor 850 bukanlah suatu hal yang mudah.

Guru Kaya yang akan dibahas dalam makalah ini bukanlah guru yang identik dengan ‘Kaya’ materil saja melainkan bagaimana menjadi guru kaya yang berhati bintang.serta beberapa kompetensi yang harus dimiliki seorang guru kaya.

B. Paradigma Baru : Menjadi ‘Guru Kaya’

Guru kaya dalam arti sempit adalah guru yang memiliki harta kekayaan cukup banyak, hidup sejahtera dan jauh dari kekurangan sedangkan ‘Guru Kaya’ oleh Ali bin Abi Thalib adalah guru yang senantiasa mementingkan ilmu daripada harta karena ilmu akan menjagamu sedang harta malah engkau yang akan menjaganya. Menurut Shabiel (2006, 2) ‘Guru Kaya’ merupakan orang yang tidak hanya memandang keberadaanya sebagai sebuah jabatan, dan tidak memandang pengajarannya sebatas tuntutan pekerjaan. Ia memiliki tabungan kebaikan yang melimpah, menjadikan profesinya sebagai investasi jangka panjang, yang penilaiannya bukan dari banyaknya harta yang dikumpulkan melainkan dari banyaknya ilmu yang diberikan dan dimanfaatkan untuk kebaikan.

‘Guru kaya’ tidak terjebak pada motivasi jangka pendek yang mengedepankan to have (keinginan memiliki) tetapi mengejar tujuan jangka panjang dengan mengedepankan to be (keinginan menjadi). Proses menjadi ‘guru kaya’ adalah dengan mensinergikan kompetensi diri dengan kompetensi pengajaran, dibingkai dengan ‘cahaya hati’ (ketulusan dan keikhlasan) dalam pola interaksi, pekerjaan, pengajaran, dan sumber atau cara memperoleh ilmu pengetahuan.

Cahaya hati

Kompetensi mengajar

Kompetensi diri

Pola interaksi

Pekerjaan (cashflow)

Proses pengajaran

Sumber Ilmu

Guru Kaya

( Amir Tengku dan Erlin T., 2006 : 11)

A. Guru kaya berdasarkan cara pandang baru terhadap diri dan profesi guru

Ada empat kuadran yang bisa digunakan seorang guru untuk mengembangkan dirinya dan dunia profesi yang menjadi karier bagi masa depannya yaitu :

Kuadran 1

Guru Pekerja

Kuadran 3

Guru Pemilik

Kuadran 2

Guru Profesional

Kuadran 4

Guru Perancang

( Amir Tengku dan Erlin T., 2006 : 13)

Seorang guru dengan paradigma To Have akan selalu memandang dirinya sebagai guru pekerja dan professional.

a. Guru pekerja adalah guru yang sebatas melaksanakan pekerjaannya dengan ciri-ciri : bekerja demi keamanan dan tunjangan setiap bulannya; awalnya tidak berminat jadi guru tetapi terpaksa jadi guru, yang penting terima gaji dan bisa jadi PNS; biar hidup sederhana dan gaji kecil yang penting rutin setiap bulan dan tugas mengajar yang penting dilaksanakan tanpa inovasi pembelajaran.

b. Guru professional adalah guru yang memiliki professionalitas dengan harga tertentu. Ciri-ciri guru professional : mengutamakan tarif (berapa harga); uang menguasai mereka; siapa punya uang dapat menggunakan tenaga mereka; ilmu menjadi sesuatu yang diukur dengan uang; ingin dihargai sesuai dengan professionalitas, pandai membagi waktu, bekerja keras dan mengajar di beberapa tempat dengan bayaran tinggi.

Sebaliknya seorang guru dengan paradigma To Be akan selalu memandang dirinya sebagai guru pemilik dan guru perancang.

a. Guru pemilik adalah guru yang ahli menjadi pusat intelektual dan mampu mengendalikan system, dengan ciri-ciri : bekerja dalam system, berfikir sangat terkait dengan kompetensi profesi sebagai guru, selalu ingin mengadakan perbaikan-perbaikan terus menerus, menginginkan perubahan atau paradigma baru, memiliki visi, kepemimpinan dan manajemen yang lebih baik, mengajar dengan menggunakan model pembelajaran yang baru.

b. Guru perancang adalah guru berprestasi yakni guru yang mempunyai prestasi dalam bidang pendidikan. Di dalam buku pedoman Pemilihan Guru Berprestasi Tingkat Nasional yang disebut guru berprestasi (teladan) adalah guru yang memiliki kemampuan melaksanakan tugas, memiliki kepribadian yang sesuai dengan profesi guru dan memiliki pemahaman wawasan pendidikan sehingga secara nyata mampu meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran melebihi yang dicapai oleh guru lain (guru pekerja, guru professional, bahkan guru pemilik) sehingga dapat menjadi panutan oleh siswa, rekan sejawat maupun masyarakat sekitarnya.

Jadi siapakah yang disebut ‘guru kaya’ itu? Adalah guru perancang karena ia telah memiliki kualifikasi akademik, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi social. Artinya kualifikasi guru perancang ini sama halnya dengan kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang guru professional yang tertuang di dalam Bab II pasal 2 UU guru dan dosen (hal ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan selanjutnya).

B. Guru Kaya berdasarkan cara atau pendekatan pengajaran yang dilakukan di kelas

Dilihat dari proses dan nilai-nilai pengajaran yang disampaikan menurut Amir Tengku dan Erlin T.(2006 : 15) guru dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :

q Guru nekrofili dan

q Guru biofili

Paradigma Menjadi Guru Kaya

To be

Guru Biofili

To have

Guru Nekrofili

4

( Amir Tengku dan Erlin T., 2006 : 15)

Biofili adalah kata yang berlawanan dengan nekrofili. Nekrofili adalah kecintaan pada kehidupan yang tidak bermakna, sedangkan biofili adalah kecintaan pada kehidupan yang bermakna.

Nekrofili lahir dari sebuah system pengajaran layaknya system bank (banking konsep education). Disini peserta didiik diberi ilmu pengetahuan agar kelak diharapkan menghasilkan sesuatu dengan berlipat ganda. Peserta didik menjadi objek investasi bagi sang guru layaknya komoditas ekonomi. Peserta didik menjadi bejana kosong yang akan diisi sebagai tabungan yang harus dikeluarkan kembali saat guru menghendakinya. Guru berperan sebagai subjek aktif, peserta didik sebagai objek pasif.

Guru biofili adalah guru yang dalam pengajarannya mengedepankan makna kehidupan (to be), mereka mengedepankan proses pembelajaran yang bersifat hadapi masalah (problem possing) sehingga ada tiga unsur penting dalam pengajaran ini yaitu pengajar, peserta didik dan perubahan atau realitas sosial.

C. Guru kaya berdasarkan kemampuan memperoleh sumber ilmu hakiki

Sumber Maha-Ilmu adalah Allah, guru yang bersumber kepada sumber ilmu yang hakiki dapat dikatakan sebagai guru berhati bintang. Menurut Matonang (2007) guru berhati bintang memiliki sumber kebijaksanaan yang berasal dari cahaya hatinya yang mengangap mentransfer ilmu sebagai amal jariyah bagi kehidupan yang kekal nantinya. Guru tersebut tidak hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan membina hubungan bermakna dengan peserta didik lebih dari itu keberadaanya mendapat pengakuan kuat dari peserta didik dan lingkungan sekitarnya.

D. Profil Guru Professional

Professional adalah sikap mental dimana seseorang itu tahu betul apa yang menjadi hak dan kewajibannya pada saat ia menjalani profesinya. Menurut H.A.R Tilaar (1998) di dalam era globalisasi profil profesi guru adalah sebagai berikut : 1) memiliki kepribadian yang matang dan berkembang, 2) memiliki penguasaan ilmu yang kuat, 3) memiliki keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, 4) mengembangkan profesi secara berkesinambungan.

E. Kualifikasi dan Kompetensi Guru Professional di Dalam UU Guru dan Dosen

Didalam Bab II pasal 2 UU Guru dan dosen dikatakan bahwa :

(1) Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga professional pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan

(2) Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga professional sebagaimana dimaksud pada ayat dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

Fungsi pengakuan guru sebagai tenaga pengajar professional antara lain : untuk meningkatkan martabat guru dan meningkatkan guru sebagai agen pembelajar (Bab II pasal 4). Setiap guru wajib memiliki kualifikasi akdemik dan kompetensi professional pendidik sebagai agen pembelajaran. Kompetensi profesi pendidik meliputi kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi social. Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diwujudkan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofessionalan dan kompetensi seorang guru bersifat holistic.

F. Keterkaitan Guru Professional dan Guru Kaya

Dari pendapat-pendapat yang telah dikemukakan sebelumnya dapat dilihat bahwa untuk menjadi guru yang ‘kaya’ maka seorang guru dituntut untuk menjadi seorang guru professioal sekaligus menjadi seorang guru perancang yang ditandai dengan adanya sertifikat pendidik yang mekanismenya tertuang dalam peraturan perundang-undangan.

F. Beberapa kompetensi yang harus dimiliki seorang guru kaya

Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, diwujudkan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. (Mustofa Kamal : 2007). Beberapa kompetensi tersebut adalah :

I. Kompetensi Diri

Bagian penting dari pengembangan talenta guru untuk mencapai keseimbangan diri sebagai seorang guru adalah mentalitas, moralitas dan spiritualitas. Sedangkan tiga hal lainnya yang menjadi penyempurna yaitu visi, leadership, dan manajemen diri.

A. Visi-Misi Mengajar

Adalah suatu pernyataan ekspresi guru yang menyatakan tujuan dan makna aktivitas mengajar. Visi-misi ini berfungsi sebagai rambu-rambu pengatur bagi guru dalam menghadapi siswa, menilai keputusan-keputusan, dan memilih perilaku mengajar.

Menuliskan visi misi membuat kita memiliki kesempatan untuk menilai ulang naskah hidup kita yang lama (paradigma lama) dan membuat naskah baru (paradigma baru). Agar visi-misi menjadi lebih baik untuk itu diperlukan adanya evaluasi secara berkala.

B. Leadership

Ada lima kualitas utama bagi kepemimpinan pribadi seorang guru yaitu kualitas iman dan takwa, kualitas pola pikir, kualitas proses pengajaran, kualitas hasil pengajaran dan kualitas hidup keteladanan.

Kualitas proses mengajar terlihat dari keterpaduan dari kepribadian sejati dan kecakapan yang kuat dengan memutar daur PDCA (plan-do-check-action). Daur PDCA diputar searah jarum jam dan dimulai dari P-D-C-A dan perputaran ini bersifat continous improvement (perbaikan terus menerus). Memutar PDCA sangat membutuhkan dukungan dari kompetensi diri dan profesi.

Kepemimpinan pribadi guru akan efektif bila memenuhi hal-hal sbb :

2. Memiliki prinsip-prinsip dan nilai-nilai sebagai keyakinan dan kekuatan diri.

3. Memiliki pengaruh dan kepedulian social

4. Memiliki efektivitas dan efisiensi pribadi

C. Manajemen diri

Efektivitas merupakan salah satu unsur fungsi manajemen. Menjadi pribadi efektif menuntut kita untuk senantiasa bersikap proaktifdan asertif.

Ada enam kendala internal yang menyebabkan efektivitas sulit dicapai yaitu karena : malas berfikir, berhenti terlalu awal, merasa sudah cukup, tidak berani mengambil resiko, cenderung keluar jalur, gagal memilih pondasi dasar dalam mewujudkan visi misi hidupnya.

Untuk itu agar menjadi pribadi yang efektif, beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain :

q Rencanakanlah hidup Anda

q Gunakan waktu

q Berfikirlah Asertif

q Bertindaklah objektif

II. Kompetensi Profesi

Menjadi guru biofili mengharuskan guru untuk memiliki kompetensi profesi. Kompetensi profesi didukung oleh kecakapan personalisasi, akademis, intuitif dan rasa. Kemampuan personalisasi dilakukan dengan cara memahami cara peserta didik mendapatkan energi, memanfaatkan anugrah manusiawai (panca-indera, otak dan hati), dan mampu mendekati peserta didik melalui kepribadian mereka. Kecakapan akademis dilakukan melalui eksplorasi panca-indera dengan otak kiri, hubungan sinergi antara keduanya mengembangkan kecakapan mengingat dan penyimpanan memori serta kecakapan mengajar (presentator). Kecakapan intuitif dilakukan melalui ekplorasi panca indera dengan otak kanan, hubungan sinergi antara keduanya mengembangkan energi positif dan mengembangkan daya cipta. Kecakapan rasa dilakukan melalui eksplorasi panca-indera dengan hati, hubungan sinergis antara keduanya meningkatkan kepekaan emosional dan kemampuan membangun silahturahmi hati.

III. Kompetensi Sosial dan Spiritual

Kompetensi sosial menyebabkan guru mampu membina hubungan yang harmonis dengan siswanya, rekan-rekan seprofesi dan masyarakat komite sekolah, sedangkan kompetensi spiritual merupakan landasan prinsip dan nilai-nilai hakiaki seorang guru dalam mengembangkan dirinya secara lebih focus dan diridhoi Alllah. Menjadi guru yang mengutamakan kekuatan spiritualitas dalam aktivitas pengajarannya, yaitu dengan kemampuan mendengar suara hati dan memanfaatkan energi spiritual akan memberikan kesempatan lebih bagi guru untuk memperoleh sumber-sumber ilmu hakiki. Suara hati dan energi spiritual terlindungi oleh prinsip dan nilai-nilai hakiki. Segala kebaikan dan aktivitas guru berhati bintang berpusat pada hati nurani.

Guru

Berhati

bintang

Membuka hati

Menata hati

Memfungsikan hati

Cahaya hati

Kecakapan

profesi

Kepribadian

sejati

( Amir Tengku dan Erlin T., 2006 : 95)

Penutup

Pilihan menjadi seorang guru kaya dalam pengertian memiliki penghasilan tinggi, sah-sah saja dan bukan sebuah larangan. Sejahtera adalah kebutuhan karena untuk meraih kehidupan yang cukup, perlu dukungan finansial memadai. Namun satu hal yang tidak boleh terlupakan adalah visi dan misi pribadi sebagai seorang pengajar dan pendidik sejati. Sebuah renungan bagi kita dari penggalan lagu Hymne Guru berikut, “… Engkau bagaikan pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau Patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa”. Apabila seorang guru menjadi kaya spiritual dan kompetensi maka pasti ia akan menerima jaminan kehidupan ekonomi yang layak sesuai keunggulan kompetensinya.

DAFTAR REFRENSI

Harian Kompas. 26 September 2007

Kamal, Mustofa. 2007. Undang-undang Guru dan Dosen dan Pengaruhnya terhadap Kompetensi dan Kesejahteraan Guru. Seminar Pendidikan”Sertifikasi Guru”

Matonang, Apner, R.M,. 2006. Menjadi Guru Kaya : Sebuah Impian?.

Nandika, Dodi, 2007. Pendidikan di Tengah Gelombang Perubahan. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia.

Tilaar, H.A.R., 1998. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dlam Perspektif Abad 21. Magelang : Tera Indonesia.

Tengku, Amir, Ramly, Erlin. 2006. Memompa Teknik Pengajaran Menjadi Guru Kaya. Jakarta : Kawan Pustaka.

Zakaria, Shabiel. 2006. Menjadi ‘Guru Kaya’ Sedikit Otokritik Terhadap Proses Sertifikasi Guru.


[1] Makalah disampaikan pada Seminar kelas Mata Kuliah Landasan dan Problematika Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika PPs Unsri, pada tanggal 13 Desember 2007.

[2] Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika PPs Unsri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: