EPISTEMOLOGI_PENGETAHUAN

EPISTEMOLOGI PENGETAHUAN

I. Pendahuluan

Epistemologi merupakan cabang atau bagian dari filsafat yang membahas masalah-masalah pengetahuan. Epistemologi atau teori pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode di antaranya metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.

Topik epistemologi termasuk salah satu topik yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya: tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.

II. Kebenaran Pengetahuan

Jika seseorang mempermasalahkan dan ingin membuktikan apakah pengetahuan itu bernilai benar, menurut para ahli epostemologi dan ahli filsafat, pada umumnya untuk membuktikan bahwa pengetahuan bernilai benar, seseorang menganalisis terlebih dahulu cara, sikap dan sarana yang digunakan untuk membangun suatu pengetahuan.Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang kebenaran (Surajiyo, 2005) antara lain sebagai berikut

1. The correspondence theory of truth (Teori Kebenaran Saling Berkesesuian). Berdasarkan teori pengetahun Aristoteles yang menyatakan bahwa kebenaran itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya atau faktanya..

2. The Semantic Theory of Truth (Teori Kebenaran berdasarkan Arti). Berdasarkan Teori Kebenaran Semantiknya Bertrand Russell, bahwa kebenaran (proposisi) itu ditinjau dari segi arti atau maknanya.

3. The consistence theory of truth (Teori Kebenaran berdasarkan Konsisten). Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

4. The pragmatic theory of truth (Teori Kebenaran berdasarkan Pragmatik). Yang dimaksud dengan teori ini ialah bahwa benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung kepada berfaedah tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya.

5. The Coherence Theory of Truth(Teori Kebenaran berdasarkan Koheren) Berdasarkan teori Koherennya Kattsoff (1986) dalam bukunya Element of Philosophy, bahwa suatu proosisi itu benar, apabila berhubungan dengan ide-ide dari proposisi terdahulu yang telah dan benar.

6. The Logical Superfluity of Truth (Teori Kebenaran Logis yang berlebihan). Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Ayer, bahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan berakibatkan suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logis yang sama yang masing-masing saling melingkupi.

7. Teori Skeptivisme, suatu kebenaran dicari ilmiah dab tidak ada kebenaran yang lengkap.

8. Teori Kebenaran Nondeskripsi. Teori yang dikembang oleh penganut filsafat fungsionalisme, yang menyatakan bahwa suatu statemen atau pernyataan mempunyai nilai benar amat tergantung peran dan fungsi dari pada pernyataan itu.

Kebenaran dapat dibuktikan secara :

a. Radikal (Individu)

b. Rasional (Obyektif)

c. Sistematik (Ilmiah)

d. Semesta (Universal)

Sedangkan nilai kebenaran itu bertingkat-tingkat, sebagai mana yang telah diuraikan oleh Andi Hakim Nasution dalam bukunya Pengantar ke Filsafat Sains, bahwa kebenaran mempunyai tiga tingkatan, yaitu haq al-yaqin, ‘ain al-yaqin, dan ‘ilm al-yaqin. Adapun kebenaran menurut Anshari mempunyai empat tingkatan, yaitu: 1) Kebenaran wahyu, 2) Kebenaran spekulatif filsafat, 3) Kebenaran positif ilmu pengetahuan dan 4) Kebenaran pengetahuan biasa.

Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah. Jadi, apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Karena itu, kebenaran mutlak hanya ada pada Tuhan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubah-rubah dan berkembang.

III. Pengertian dan Dasar Epistemologi

Menurut wikipedia Indonesia; ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia epistemologi dari bahasa Yunani ‘episteme’ yang artinya pengetahuan dan ‘logos’ yang berarti kata atau pembicaraan adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat dan jenis pengetahuan. Pengertian lain dari epistemologi adalah cabang filsafat yang mempersoalkan atau menyelidiki tentang asal, susunan, metode serta kebenaran pengetahuan. Sedangkan Langesveld berpendapat bahwa epistemologi merupakan teori pengetahuan yang membicarakan hakikat pengetahuan, unsur-unsur pengetahuan, dan susunan berbagai jenis pengetahuan, pangkal tumpuannya yang fundamental, metode-metode dan batas-batasnya. Menurut kesimpulan penulis epistemologi merupakan cabang atau bagian dari kajian filsafat yang pada hakikatnya mengharapkan jawaban yang benar, dan bukan hanya sekedar jawaban yang bersifat sebarang saja dan berlandaskan pada metode ilmiah atau cara yang dilakukan dalam menyusun pengetahuan yang benar.

Epistemologi atau teori ilmu pengetahuan membahas secara mendalam segenap proses yang nampak dalam upaya manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Ilmu diperoleh melalui proses metode keilmuan, artinya ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan metode keilmuan. Kata sifat ‘keilmuan’ lebih menggambarkan hakikat ilmu daripada ilmu sebagai kata benda. Hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan menurut persyaratan keilmuan karena ilmu adalah bersifat terbuka, demokratis, dan menjunjung kebenaran di atas segala-galanya.

IV. Sumber Pengetahuan

Beberapa sumber pengetahuan manusia yakni:

(1) pengalaman manusia,

pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman dengan jalan observasi dan penginderaan, dalam observasi itu dikumpulkan fakta-fakta dari berbagai fenomena, data-data itu kemudian diamati, diklasifikasi dan diklarifikasi, disusun secara sistematis kemudian ditarik generalisasi-generalisasi sebagai kesimpulannya yang kemudian muncullah, hukum-hukum, dalil-dalil, atau teori-teori suatu ilmu;

(2) otoritas, kewenangan atau kepakaran;

(3) Berfikir induktif,

pekerjaan induktif diawali dari hal-hal yang khusus atau partikular yang terpikirkan sebagai kelas dari suatu fenomena, menuju generalisasi-generalisasi,namun berfikir induktif mengalami keterbatasan ketika misalkan sejumlah besar X yang berupa fakta-fakta dari fenomena-fenomena itu dan variasi kondisi yang luas maka mungkinkah observer mengamati semua dari fenomena itu dan melakukannya dengan variasi kondisi yang lengkap? Hampir pasti hal ini tak mungkin karena berfikir induksi terbagi dua yakni induksi lengkap dan induksi tak lengkap.

Diantara kedua bentuk induksi ini yang sering digunakan adalah induksi tak lengkap yang disebut sampel studi yang biasanya mempertanyakan tiga hal yakni: besar kecilnya sampel, representatifnya sampel dan homogenitas sampel, dalam hal mempertegas variasi kondisi umumnya digunakan prinsip Bacon sesuai nama penemunya Francis Bacon bahwa mencapai hakikat induktif itu melalui tabulasi/pencatatan ciri-ciri positif ( pencatatan mengenai apa yang terjadi dalam suatu kondisi), ciri-ciri negatif ( pencatatan kondisi-kondisi mana suatu kejadian tidak timbul, dan variasi kondisi ( pencatatan ada tidaknya perubahan ciri-ciri pada kondisi-kondisi yang berubah-ubah), sebagai contoh dengan mengobservasi pantai yang dikaitkan dengan peredaran bulan sehingga dicapai suatu kesimpulan bahwa air laut akan naik/pasang bila bulan dalam keadaan purnama;

(4) Berfikir deduktif,

Berfikir dengan prinsip dasar semua yang dianggap benar pada segala peristiwa dalam satu kelas atau satu jenis, berlaku pula sebagai hal yang benar pada semua peristiwa yang yang terjadi pada hal-hal yang khusus, asalkan hal yang khusus atau partikular ini adalah benar-benar bagian dari hal-hal yang umum itu, kesimpulan yang didapat dari proses berfikir deduktif merupakan hasil pemikiran rasio dimana pada umumnya orang akan merasa tidak puas, baik terhadap hasil pemikiran sendiri apalagi terhadap hasil pemikiran orang lain, karenanya berfikir deduktif dianggap sebagai kesimpulan sementara atau tentatif atau sebagai dugaan atau hipotesis sehingga untuk meyakinkan kebenarannya perlu dilakukan pembuktian/pengujian (verifikasi) yakni membandingkan dan atau menyesuaikan keadaan empiris dengan proses penalaran induktif sebagai contoh bahwa semua manusia adalah fana, dan fakta menunjukkan Sokrates adalah manusia, maka kesimpulannya Sokrates adalah fana (dengan sebuah hukuman minum racun );

(5) metode ilmiah,

yaitu cara mendapatkan pengetahuan secara ilmiah; langkah-langkah metode ilmiah adalah penemuan dan penentuan masalah, perumusan kerangka masalah, pengajuan hipotesis secara empiris, deduksi dari hipotesis yang merupakan langkah perantara untuk menguji hipotesis, pembuktian hipotesis. Bila pembuktian hipotesis benar maka hipotesis diterima dan menjadi teori ilmiah, bila tidak maka kembali lagi ke langkah penyusunan kerangka masalah/berfikir dan seterusnya;

(6) intuisi,

yaitu sesuatu yang diperoleh sesaat tanpa proses berfikir namun dengan melalui perasaan atau tanpa melalui proses penalaran dan;

(7) wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang berisikan pengetahuan tentang kehidupan seseorang yang terjangkau oleh empiris maupun yang mencakup permasalahan yang transendental, seperti latar belakang dan tujuan penciptaan manusia, dunia, dan seisinya serta kehidupan akhirat kelak.

Alur berfikir secara lengkap dari metode ilmiah adalah seperti pada bagan berikut.

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Penentuan dan Perumusan Masalah

Teori Ilmiah

Pengajuan Hipotesis dan deduksi dari

hipotesis

Penyusunan Kerangka Masalah/berfikir

Diterima

Pembuktian Hipotesis

Ditolak

Organization Chart<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

V. Beberapa Jenis Metode Ilmiah

Beberapa jenis metode ilmiah diantaranya adalah: (1) metode observasi, dalam penelitian ilmiah beberapa kondisi yang penting dalam melakukan observasi adalah indra yang normal dan sehat, kematangan mental, alat-alat bantu fisik, cara mengatur posisi, tempat atau kondisi yang memungkinkan observasi dapat dilakukan dengan cermat, serta pengetahuan lapangan; (2) metode trial and error atau coba salah atau metode trial and succes atau coba hasil, misalkan seorang tukang kunci yang kehilangan anak kuncinya maka tanpa disadarinya dia mencoba untuk membuka kunci atau seekor simpanse yang mencoba dengan berbagai cara untuk menjangkau makanan yang tidak terjangkau oleh jangkauannya; (3) metode eksperimen, kegiatan yang didasarkan pada prinsip metode penemuan sebab akibat dan pembuktian hipotesis, sebagai contoh misalkan antara sepotong gabus dan sepotong besi yang dijatuhkan pada waktu dan tinggi yang sama dalam suatu ruang yang diperlengkapi dengan pompa udara, dimana udara masih tetap ada yang jatuh duluan adalah sepotong gabus, dengan faktor lain yang dijaga agar tetap konstan, udara dikeluarkan dari ruangan itu kemudian sepotong gabus dan sepotong logam tadi kembali dijatuhkan, ternyata pada kesempatan ini keduanya mencapai dasar ruang pada waktu yang sama maka kesimpulannya adalah dengan adanya udara sepotong gabus jatuhnya menjadi lebih perlahan dari pada sepotong besi, namun jika udara dihampakan maka kedua benda tersebut jatuhnya bersamaan, hal ini menunjukkan bahwa tekanan udara memperlambat jatuhnya sepotong gabus tadi. ; (4) metode statistik, memungkinkan untuk menjelaskan sebab akibat dan pengaruhnya, melukiskan berbagai fenomena, dan dapat membuat perbandingan-perbandingan dengan menggunakan tabel-tabel dan grafik serta dapat meramalkan kejadian-kejadian mendatang dengan keakuratan yang tinggi.; (5) metode sampling atau pengambilan contoh,; (6) metode berfikir reflektif yang terdiri atas tahap-tahap: adanya kesadaran kepada sesuatu permasalahan, data yang diperoleh dan relevan yang harus dikumpulkan, data yang terorganisasi, formulasi hipotesis, deduksi harus berasal dari hipotesis, dan pembuktian kebenaran verifikasi.

VI. Postulat Ilmiah

Semua eksperimen tentulah harus membuktikan sesuatu, sesuatu adalah benar apakah kita telah berfikir secara ilmu, filsafat atau kepercayaan agama yang kita yakini. Beberapa ide dan fakta di permukaan bumi harus diterima sebagai postulat, yakni kita pergunakan sebagaimana adanya, sebagai contoh penyusun dan penulis buku yang luar biasa yakni Euklid dalm bukunya ‘the elements’ atau ‘ Euclid’s Element’ mengemukakan lima postulat dalam geometri bidang datar yaitu: (1) menarik garis lurus dari sebarang titik ke sebarang titik yang lain; (2) memperpanjang suatu ruas garis secara kontinu menjadi garis lurus; (3) melukis lingkaran dengan sebarang titik pusat dan sebarang jarak; (4) Bahwa semua sudut siku-siku adalah sama ;dan (5) bahwa, jika suatu garis lurus memotong dua garis lurus dan membuat sudut-sudut dalam sepihak kurang dari dua sudut siku-siku, kedua garis itu jika diperpanjang tak terbatas, akan bertemu dipihak tempat kedua sudut dalam sepihak kurang dari dua sudut siku-siku. Hal ini meliputi landasan berfikir atau logika. Prinsip dari postulat adalah: (1) kausalitas, bahwa setiap kejadian mempunyai sebab; (2) ramalan yang sama, bahwa sekumpulan kejadian akan menunjukkan sejumlah hubungan atau antar hubungan di masa depan; (3) objektif, untuk tidak berbuat berat sebelah sehubungan dengan data yang dihadapi; (4) empirisme, bahwa impresinya benar dan uji kebenaran merupakan suatu tuntutan ke arah fakta yang telah teruji; (5) parsimony/penghematan, menurut Occam dalm Burhanuddin Salam, bahwa kesatuan itu (penjelasan) jangan diperbanyak di luar kebutuhannya; (6) isolasi atau pengasingan, bahwa fenomena yang akan diteliti harus dipisahkan sehingga dapat diselidiki secara tersendiri; (7) kontrol, dan; (8) pengukuran yang tepat.

VII. Struktur Ilmu Pengetahuan

Dengan adanya keanekaragaman permasalahan dalam suatu penyelidikan/penelitian menyebabkan adanya kebutuhan untuk memberikan penjelasan, ramalan dan batasan yang harus sesuai dengan ilmu itu sendiri. Adapun penjelasan dalam penelitian ilmiah antara lain adalah: (1) penjelasan logis yang terbagi dalam penjelasan deduktif, penjelasan induktif; (2) penjelasan probabilistik, keadaan boleh jadi, mungkin atau hampir; (3) Penjelasan finalistik, penjelasan dengan berpangkal tolak atau mengacu kepada tujuan; (4) penjelasan historik atau genetis, penjelasan untuk pertanyaan mengapa sesuatu itu terjadi;(5) penjelasan fungsional atau teleologis, penjelasan yang memberikan gambaran atas sesuatu dengan mengungkapkan apa yang diteliti dalam relasinya dengan tempat atau kejadian yang sedang diselidiki dalam keseluruhan sistem dunia objek itu berada. Sedangkan bentuk ramalan atau prediksi yang banyak digunakan adalah ramalan menurut: (1)hukum, yang bertitik tolak pada keajegan-keajegan, (2) struktur, yang bertitik tolak pada suatu kemajuan baik yang vertikal maupun yang horizontal, (3) proyeksi, yang bertitik tolak pada pembelajaran kejadian-kejadian terdahulu sehingga didapat suatu pernyataan berdasar kejadian itu, dan (4) utopia, bertitik tolak kepada pengetahuan teoritis yang sekarang dimiliki untuk mengetahui kejadian dan keadaan di masa mendatang. Batasan/pengontrol adalah pengertian yang lengkap tentang sesuatu istilah dimana tercakup semua unsur yang menjadi ciri penentu atau utama dari istilah itu atau pengertian yang berupa suatu proposisi yang diterima secara umum untuk mencapai tujuan yang khusus dari penjelasannya itu. Batasan memberikan arah tentang sesuatu istilah yang dipergunakan. Adapun syarat-syarat batasan agar batasan yang dibuat tidak menimbulkan kekacauan/kekaburan adalah: (1) menyatakan ciri-ciri yang khas atau hakiki dari apa yang diberi batasan atau definiendum; (2) batasan tidak boleh memuat istilah yang memuat istilah yang sinonim dengan definiendum; (3) tidak terlalu luas namun singkat dan jelas/tepat sasaran; (4) tidak boleh dinyatakan secara negatif; dan (5) tidak dinyatakan dalam bahasa kiasan atau pleonasme yang mengaburkan.

VIII. Sifat Ilmiah dari Ilmuwan

Sikap ilmiah merupakan suatu pandangan seseorang terhadap cara berfikir yang sesuai dengan metode keilmuan, sedemikian sehingga muncul trend untuk menerima ataupun menolak terhadap cara berfikir yang cocok dengan keilmuan tersebut. Menurut Harsoyo dalam Burhanuddin Salam sikap ilmiah yang perlu dimiliki oleh ilmuwan adalah: objektif, sikap serba relatif, skeptif/pandangan ragu-ragu terhadap suatu opini, kesabaran intelektual, kesederhanaan, dan tidak memihak kepada etik. Namun menanggapi pendapat Harsoyo disini apakah memang benar ilmu itu nomologis? Apical hanya menilai apa yang benar dan apa yang salah? Bukankah sebaiknya memperhatikan apa yang baik dan apa yang buruk bagi kemanusian, yang sejalan dengan pendapat Einstein terhadap ilmu yang harus normative yakni ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu pengetahuan adalah bisu.

IX. Penutup

Melalui epistemologi, bagaimana cara tahu sesuatu berarti bagaimana kemungkinan penimbaan pengetahuan yang merupakan ilmu, proses-prosesnya, dan faktor pendukungnya, agar memperoleh pengetahuan yang benar. Selanjutnya dapatlah menemukan tentang hakikat kebenaran dan kriterianya. Metode ilmiah merupakan suatu metode yang sangat berharga untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan yang obyektif dan menghindarkan hambatan-hambatan dan bias yang dihadapi manusia dalam mencari kebenaran. Tentunya kebenaran haruslah berpijak pada teori kebenaran yakni diantaranya berdasar kepada prinsip koherensi, korespondensi, pragmatisme, dan skeptisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: