ILMU_DAN_BUDAYA


Setelah kita mempelajari ontologi, aksiologi dan epistimologi. Kita akan mengembangan kajian filsafat kita,dalam bab sebelumnya,sudah kita kenal sarana berpikir ilmiah. Untuk itulah kita akan menindaklanjuti sarana berpikir ilmiah kita,jika kita kaji dari sudut pandang kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

A. Ilmu dan Kebudayaan

1. ILMU

Dilingkungan pendidikan terutama pendidikan tinggi, boleh dikatakan setiap waktu istilah “ilmu” diucapkan dan sesuatu ilmu diajarkan. Tampaknya telah menjadi kelaziman bahwa sebutan yang dipergunakan ialah “ilmu pengetahuan”. Walaupun setiap saat diucapkan dan dari waktu ke waktu diajarkan, nampaknya tidak banyak dilakukan pembahasan mengenai ilmu itu sendiri. Apa pengertian ilmu dengan sendirinya dipahami tanpa memerlukan keterangan lebih lanjut. Tetapi ,apabila harus memberikan rumusan yang tepat dan cermat mengenai pengertian ilmu barulah orang akan merasa bahwa hal itu tidaklah begitu mudah.

Hal ini terlihat dalam penyebutan istilah “ilmu pengetahuan” yang begitu lazim dalam masyarakat demikian juga dunia perguruan tinggi yang merupakan penyebutan yang kurang tepat dan tidak cermat. Istilah ilmu atau science merupakan suatu perkataan yang bermakna ganda, karena itu dalam memakai istilah seseorang harus menegaskan atau menyadari arti makna yang dimaksud. Menurut cakupannya pertama ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan, jadi ilmu mengacu pada ilmu seumumnya (science in general ). Yang kedua ilmu menunjuk kepada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari sesuatu pokok tertentu, dalam hal ini cabang ilmu khusus sepaerti antropologi, biologi, geografi dan sebagainya.

Pengertian ilmu adalah merupakan suatu cara berfikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Ilmu merupakan produk dari proses berfikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut sebagai berfikir ilmiah. Berfikir ilmiah merupakan kegiatan berfikir yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, yaitu :

1. LOGIS yaitu pikiran kita harus konsisten dengan pengetahuan ilmiah yang telah ada.

2. Harus didukung fakta empiris, yaitu telah teruji kebenarannya yang kemudian memperkaya khasanah pengetahuan ilmiah yang disusun secara sistematik dan kumulatif.

Kebenaran ilmiah tidak bersifat mutlak, tetapi terbuka bagi koreksi dan penyempurnaan, mungkin saja pernyataan sekarang logis kemudian bertentangan dengan pengetahuan ilmiah baru.

Dari hakekat berfikir ilmiah tersebut dapat disimpulkan beberapa karakteristik dari ilmu, yaitu :

1. mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar

2. alur jalan pikiran yang logis dan konsisten dengan pengetahuan yang telah ada

3. pengujian empiris sebagai kriteria kebenaran objektif

4. mekanisme yang terbuka terhadap koreksi

Dari segi maknanya, pengertian ilmu sepanjang yang terbaca dalam pustaka menunjuk sekurang-kurangnya tiga hal, yakni : pengetahuan, aktivitas dan metode.

Secara umum ilmu adalah pengetahuan, diantara para filsuf dari berbagai lairan terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan atau pengetahuan yang dihimpun dengan perantara metode ilmiah. Pengetahuan hanyalah produk/hasil dari suatu kegiatan yang dilakukan manusia.

Pengertian ilmu sebagai pengetahuan, aktivitas atau metode bila ditinjau lebih dalam sesungguhnya tidak saling bertentangan, tetapi merupakan kesatuan logis yang mesti ada secara berurutan.

Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu dan akhirnya aktivitas metode itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Kesatuan dan interaksi diantara aktivitas, metode dan pengetahuan yang boleh dikatakan menyusun diri menjadi ilmu dapat digambarkan dalam suatu bagan segitiga sebagai berikut :

Aktivitas

ilmu

Metode Pengetahuan

Bagan diatas memperlihatkan bahwa ilmu dapat dipahami dari tiga sudut

Dengan demikian, pengertian ilmu selengkapnya berarti aktivitas penelitian, metode ilmiah dan pengetahuan sistematis. Ketiga pengertian ilmu itu saling bertautan logis dan berpangkal pada satu kenyataan yang sama bahwa ilmu hanya terdapat dalam masyarakat manusia, dimulai dari segi pada manusia yang menjadi pelaku fenomenon yang disebut ilmu. Hanyalah manusia (dalam hal ini ilmuan) yang memiliki kemampuan rasional, melakukan aktivitas kognitif dan mendambakan berbagai tujuan yang berkaitan dengan ilmu. Keterkaitan dari pengertian ilmu tersebut dijelaskan dalam pendapat The liang Gie (2004:93) berikut ini:

”Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang systematik mengenai kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan atau melakukan penerapan”

Pemahaman ilmu sebagai aktivitas, metode dan pengetahuan itu dapat diringkas menjadi :

Sebagai proses : Aktivitas penelitian Pengertian

Ilmu Sebagai prosedur : Metode ilmiah

Sebagai produk : Pengetahuan sistematis

Beberapa pendapat filsuf /ilmuwan tentang ilmu

Filsuf Belgia Jean Ladriere 1975

Ilmu dapat dipandang sebagai keseluruhan pengetahuan kita dewasa ini, atau sebagai suatu aktivitas penelitian, atau sebagai metode untuk memperoleh pengetahuan.

Ilmuan Italia Adriano Buzzati-Traverso 1977

Ilmu sebagaimana kita lihat, tidak dapat lagi dipandang sebagai suatu kumpulan pengetahuan atau suatu metode khusus untuk memperoleh pengetahuan, ilmu harus dilihat sebagai suatu aktivitas kemasyarakatan pula.

Norman Campbell (tahun 50 an )

Menyebutkan tiga hal , yaitu pengetahuan, metode dan studi (suatu jenis aktivitas-penelaahan). Hanya sayang logika pemikirannya kurang cermat

dengan mengelompokkan pengertian metode ke dalam pengetahuan.

Melvin Marx dan William Hillix (tahun 60 an)

Mereka menuliskan tenteng tiga sifat dasar ilmu, yaitu ilmu sebagai sikap ilmiah, metode ilmiah, kumpulan pengetahuan. Kelemahannya ialah kurang tegas menekankan pengertian aktivitas ilmiah dan terlampau menonjolkan sikap ilmiah.

2. BUDAYA

Menurut E.B Taylor (1871) dalam buku Primitive Culture yang dikutip oleh Jujun S. Suriasumantri, kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Selain dari pendapat diatas terdapat ratusan lain definisi tentang kebudayaan yang telah dipublikasikan selama kurang lebih 75 tahun.

Manusia sebagai suatu objek dan sekaligus subjek dari suatu kebudayaan memiliki kebutuhan –kebutuhan yang sangat banyak,pemenuhan kebutuhan inilah yang menjadi salah satu cara manusia untuk mengembangkan unsur-unsur kebudayaan yang dikenalnya.. Menurut Kunjraningrat dalam Suriasumantri, 1987 menyatakan bahwa kebudayaan terdiri atas system religi dan kepercayaan, upacara keagamaan, system dan organisasi kemasyarakatan, system pengetahuan, bahasa, kesenian, system mata pencarian serta teknologi dan peralatan.

Kebutuhan manusia sebagai makhluk diidentifikasi menjadi lima kelompok, yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, afiliasi, harga diri dan pengembangan potensi.

Kebutuhan fisiologis berhubungan dengan seluk beluk kelompok,fungsi dan bagian kehidupan, Rasa aman berhubungan dengan perlindungan diri,afiliasai berhubungan dengan kerjasama atau hubungan dengan orang lain,harga diri berhubungan dengan kehormatan dan pengembangan potensi berhubungan dengan kemampuan untuk memaksimalkan bakat dan sebagainya.

Manusia sebagai makhluk tuhan pada dasarnya tidak mampu untuk bertindak instrintif atau berdasarkan naruni semata seperti yang terjadi pada hewan. Oleh karena itulah dikembangkan suatu cara untuk mengajarkan cara hidup yang kita sebut sebagai kebudayaan. Akan tetapi meski tidak dapat bertindak instrintif, manusia memiliki kemampuan komunikasi, belajar dan menguasai objek-objek secara fisik.

Nilai-nilai kebudayaan adalah jiwa dari kebudayaan dan menjadi dasar dari segenap wujud kebudayaan. Selain nilai budaya kebudayaan juga diwujudkan dalam tata hidupyang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang dikandungnya. Nilai budaya bersifat abstrak sedangkan tata hidup bersifat real.

Keseluruhan yang dipaparkan diatas sangat erat kaitannya dengan pendidikan, sebab semua materi yang terkandung dalam suatu kebudayaan diperoleh manusia dengan sadar lewat proses belajar, secara belajarlah yang membuat transfer kebudayaan dari generasi yang satu kegenerasi berikutnya.

B. Kebudayaan dan Pendidikan

Menurut Allport, Verron dan Lindzey (1951) dalam Suriasumantri(1987) mengidentifikasi enam nilai dasar dalam kebudayaan yakni nilai teori, ekonomi, estetika,sosial, politik dan agama.

Dari penggolongan diatas maka masalah pertama yang dihadapi oleh pendidikan ialah menerapkan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak-anak kita.

Pendidikan merupakan usaha sadar dan sistimatis dalam membantu anak didik untuk mengembangkan pikiran, kepribadian dan kemampuan fisiknya. Dan anak didik kita memang memerlukan pendidikan yang utuh, artinya pendidikan harus sesuai dan relevan dengan kebudayaan dan zaman si anak, namun pada kenyataannya pendidikan ternyata tidak relevan dengan zaman dan kebudayaan anak tersebut dimasa depan. Karena masih banyak pola pendidikan kita yang konvensional dan tidak memberi nilai lebih bagi anak.Tetapi untuk menentukan nilai mana yang patut didapatkan anak didik, maka kita perlu menelaah dan meramalkan skenario pada masyarakat kita yang akan datang.

Skenario masyarakat Indonesia dimasa yang akan datang dapat coba kita ramalkan,dengan memperhatikan semua indikator yang ada dan berkembang saat ini di masyarakat kita, maka diduga masyarakat yang akan datang akan cenderung berkarakter sebagai berikut :

1. Berubah dari masyarakat Rural Agraris kemasyarakat Urban Industri

Artinya pergeseran masyarakat yang awalnya pola kehidupannya banyak berubah,dari masyarakat yang didominasi pertanian ke masyarakat industri.

2. Pengembangan kebudayaan kearah perwujudan peradaban yang berdasar Pancasila.

Dalam karakter pertama,dibanding masyarakat tradisional,masyarakat modern lebih memiliki indikator sebagai berikut :

1. Bersifat analitik,artinya setiap aspek kehidupan berdasarkan pada aspek efisiensi baik secara teknis maupun ekonomis.

2. Individual,artinya kurang bersifat komunal terlebih dari sudut pandang pengembangan potensi manusiawi.

Kedua indikator ini harus lebih berorientasi pada kepercayaan pada diri sendiri serta keberanian mengambil keputusan.

Dalam masyarakat modern semua aspek kehidupan dan bermasyarakat pengambilan keputusan didapatkan pada hasil pemikiran dan pertimbangan yang matang, sehingga dalam masyarakat modern pengambilan keputusan dengan menggunakan instuisi, perasaan dan tradisi makin berkurang dan meskipun masih dikerjakan namun relatif lebih rendah.

Dengan demikian secara berangsur-angsur pola kehidupan masyarakat tradisional yang lebih mengedepankan status akan beralih menjadi masyarakat modern yang berorientasi pada prestasi. Pengembangan kebudayaan nasional harus ditujukan kearah terwujudnya suatu peradaban yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita bangsa Indonesia.

C. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional

Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur kebudayaan. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi.

Disatu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung kondisi kebudayaannya, tapi dipihak lain pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan. Menurut Talcot Persons :

Ilmu dan kebudayaan itu terpadu secara intim dengan seluruh struktur sosial dan tradisi kebudayaan “

Peranan ganda ilmu dalam pengembangan kebudayaan nasional adalah sebagai berikut :

  1. Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya perkembangan kebudayaan nasional
  2. Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.

Kedua hal ini terpadu satu sama lain dan sukar dibedakan. Pengkajian perkembangan kebudayaan nasioal tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ilmu.

Seiring perjalan waktu, dewasa ini kurun ilmu dan teknologi menjadi pengembangan utama bidang ilmu dan secara tidak langsung kebudayaan kita tak terlepas dari pengaruhnya, sehingga kita harus ikut memperhitungkan hal ini. Untuk itu dibicarakan peranan ilmu sebagai sumber nilai yang ikut mendukung pengembangan kebudayaan nasional.

D. Ilmu Sebagai Suatu Cara Berpikir

Berpikir ilmiah merupakan kegiatan berpikir yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, yang memiliki dua kriteria utama, yaitu :

1. Pernyataan harus logis

2. Didukung fakta empiris (Empiris : berdasarkan pengalaman dan pengetahuan)

Kedua kriteria tersebut saling mengikat, yang pertama setiap pernyataan yang disampaikan harus logis dan diperolah dari fakta-fakta empiris, merupakan hakikat berpikir ilmiah. Dari hakikat ini, kita dapat menyimpulakan beberapa karakteristik ilmu :

  1. Ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar
  2. Akar berpikir yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang ada.
  3. Pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif.
  4. Mekanisme yang terbuka terhadap koreksi

Maka disimpulkan manfaat yang dapat diperoleh dari karakteristik ilmu ialah rasional,logis,objektif dan terbuka dan kritis sebagai landasannya.

E. Nilai-Nilai Ilmiah dan Pengembangan Kebudayaan Nasional

Ada 7 nilai yang terkandung dalam dari hakikat keilmuan yaitu kritis, rasional,logis,objektif , terbuka,menjunjung kebenaran dan pengabdian universal.

Ketujuh sifat ini sangat akan sangat konsisten untuk mbentuk bangsa yang modern. Karena bangsa yang modesn akan menghadapi banyak tantangan di segala bidang kehidupan. Pengembangan kebudayaan nasional pada hakikatnya adalah perubahan kebudayaan konvensional kearah yang lebih aspirasi.

F. Ke Arah Peningkatan Peranan Keilmuan

Jika menurut kita benar bahwasanya ilmu bersifat mendukung budaya nasional,maka kita perlu meningkatkan peranan keilmuan dalam kehidupan kita.

Beberapa langkah yang dapat kita gunakan yang pada pokoknya mengandung beberapa pemikiran sebagai berikut:

  1. Ilmu merupakan bagian kebudayaan,sehingga setiap langkah dalam kegiatan peningkatan ilmu harus memperhatikan kebudayaan kita.
  2. Ilmu merupakan salah satu cara menemukan kebenaran.
  3. Asumsi dasar dari setiap kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah percaya dengan metode yang digunakan.
  4. Kegiatan keilmuan harus dikaitkan dengan moral.
  5. Pengembangan keilmuan harus seiring dengan pengembangan filsafat
  6. Kegiatan ilmah harus otonom dan bebas dari kekangan struktur kekuasaan.

Keenam hal ini merupakan langkah-langkah untuk memberi control bagi masyarakat terhadap kegiatan ilmu dan teknologi.

G. Dua Pola Kebudayaan

Dua pola kebudayaan dan ilmu yang begulir di Indonesia, adalah ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social. Kenapa hal ini terjadi,ini terjadi karena besarnya perbedaan antara ilmu social dan ilmu alam. Contohnya,jika kita belajar ilmu alam dengan subjek batu,kira-kira saat lain di teliti lagi maka kemungkinan besar akan berhasil dengan nilai yang sama,tetapi tidak demikin dalam ilmu social,dalam ilmu social,ilmu social bergerak lebih fleksibel dan dapt berubah swaktu-waktu.

Namun kedua hal itu bukan merupakan masalah,kedua hal itu tidak mengubah apa yang menjadai tujuan penelitian ilmiah. Ilmu bukan bermaksud mengumpulkan fakta tapi untuk mencari penjelasa dari gejala-gejala yang ada,yang memungkinkan kita mengetahui kebenaran hakikat objek yang kita hadapi.

Ada dua factor yang menjadi landasan suatu analisis kuantitatif ilmu social yaitu: sulitnya melakukan pengukuran,karena emosi dan aspirasi merupakan unsure yang sulit dan yang kedua banyaknya variable yang mempengaruhi tingkah laku manusia.

Hal seperti inilah yang menyebabkan ilmu alam lebih maju dari pada ilmu social. Itu dikarenakan ilmu social lebih terpaku pada tahap kualitatif,dan untuk mengubah ini ilmu social harus lebih masuk ketahap kuantitatif.

Di Indonesia hal seperti ini masih berlaku,tebukti adanya dua penjurusan dalam bidang kajian ilmu,yaitu ilmu social dan ilmu alam,dan dalam pelaksanaannya ilmu alam selalu dianggap lebih bergengsi di banding ilmu social. Itu membuat sebagian masyarakat kita terobsesi untuk masuk jurusan ilmu alam meski mungkin lebih berbakat dalam bidang social,sehingga secara tidak langsung menghambat perkembangan ilmu social.

Pada akhirnya harus kita sadari bahwa adanyadua jurusan dalam bidang ilmu ini memerlukan suatu usaha yang fundamental dan sistematis dalam menghadapinya. Perlu dicari titik temu diantara kedua bidang ini sehingga satu sama lain akan saling melengkapi,bukan saling terpisah. Karena bagaimanapun ilmu social tidak dapat terpisah dan berdiri sendiri dan begitupun ilmu alam tetap terikat secara social.

H. Penutup

Kebudayaan adalah sebuah usaha untuk membentuk masyarakat yang beradab dan berbudi luhur. Dan ilmu merupakan sarana untuk mewujudkan nilai yang terdapat dalam kebudayaan itu. Pada akhirnya harus kita sadari bahwa semua unsur di dunia ini saling berkaitan, ilmu dan kebudayaan tidak bisa berdiri sendiri,saling berikat dan saling membutuhkan. Ilmu sosial dan ilmu alam harus bisa berdampingan,sehingga pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban dapat terus berlangsung sejalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: