PEMBENTUKAN_ALAM_RAYA


I. PENDAHULUAN

Pada mulanya karena keterbatasan pandangannya, manusia menyangka bahwa bumi tempatnya berpijak itulah alam raya yang satu-satunya ada. Hal ini terjadi karena pada waktu itu tidak leluasa untuk bergerak. Meskipun demikian, khayal manusia yang terkukung oleh keterasingannya itu dapat terbang kemana-mana.

Sejak zaman purbakala hingga sekarang manusia dari berbagai peradaban mencoba menemukan model terbentuknya bumi ini sesuai dengan tingkat perkembangan pengetahuan dan kecendekiawanannya. Perkembangan citra manusia mengenai alam raya ini sering sekali terikat sangat erat pada pengetahuan a priori yang diturunkan kepadanya melalui metode otoritas. Hal itu pula yang menyebabkan bahwa pandangan manusia tentang alam raya sulit diuji kebenarannya melalui pengalaman dan sulit mengalami perubahan atau revolusi.

Makalah ini akan membahas tentang perkembangan pandangan dari berbagai peradaban tentang alam raya, teori-teori pembentukkan alam raya, dan pandangan Islam tentang pembentukan alam raya.

II. PEMBAHASAN

2.1 Pandangan Tentang Alam Raya dari Berbagai Peradaban

Bangsa Mesir Purba percaya bahwa alam raya dikuasai oleh Dewi Langit Nuh yang tubuhnya bertaburan bintang. Ia memayungi alam raya ini sambil menopang langit agar tidak runtuh menekan bumi. Setiap malam dewi ini menelan matahari dan memuntahkannya kembali di pagi hari. Di antara pagi dan malam hari matahari berlayar di langit dengan perahu.

Bangsa Babilonia percaya bahwa bumi ialah pusat alam semesta. Bumi itu dianggapnya sebagai suatu gunung yang berongga di bawahnya dan ditopang oleh suatu samudera. Angkasa melengkung di atas bumi berdiri tegak di antara perairan bawah dan perairan atas samudera yang kadang-kadang turun ke bumi berupa hujan.

Kemudian timbul agama-agama yang mengajarkan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Sewaktu ilmu pengetahuan modern mulai berkembang setelah Eropa kembali ke zaman Kebangkitan pada abad 17, pandangan orang mengenai asal-usul kehidupan dibentuk oleh ajaran yang tercantum dalam perjanjian lama pada Kitab Kejadian atau Genesis. Kitab ini berisi ajaran tentang bumi yang mirip dengan pandangan orang Babilonia. Bedanya bahwa di atas angkasa di langit ada suatu tempat yang disebut surga yaitu tempat Tuhan Yang Maha Esa bertahta, sedangkan di bawah bumi terdapat Neraka.

Sebagian besar bangsa Yunani Kuno percaya bahwa bumi adalah pusat alam raya. Pada sekitar tahun 140 M muncul teori Ptolemaios tentang sistem tata surya di alam semesta yang didasari oleh konsep geosentrisme. Teori ini beranggapan bahwa bumi tetap pada tempatnya sedangkan bulan, merkurius, venus, matahari, saturnus, dan jupiter mengelilingi bumi dalam gerakan yang melingkar. Kemudian sebelum abad ke-18 yaitu tahun 1543 muncul teori Heliosentrisme yang dikemukakan oleh Copernicus. Menurut teori ini matahari tetap pada kedudukannya dan bumilah yang mengitari matahari melewati lintasan berbentuk lingkaran. Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Johannes Kepler bumi mengitari matahari melewati lintasan berbentuk elips.

Selama hampir 4 abad teori Heliosentrisme masih memberikan keyakinan bahwa pusat alam raya yang sebenarnya adalah matahari dan tata suryanya termasuk bumi. Dengan majunya teknologi pembuatan teleskop, pada abad ke – 18 astronom Inggris Sir William Herschel melihat bentuk gugus bintang Bima Sakti serta mengamati bentuk-bentuk menyerupai awan yang terang di angkasa yang dinamakan Nebula. Pada tahun 1981 dengan tersedianya teleskop yang lebih besar daya membedakannya sehingga memungkinkankan orang mendapat tambahan pengetahuan tentang rasi-rasi bintang yang letaknya sangat jauh dari tatasurya kita. Astronom Amerika Serikat Edwin Powell Hubble menyatakan bahwa Nebula yang diamati oleh Herschel adalah galaksi juga yang letaknya lebih jauh dari galaksi BimaSakti.

Sekarang telah diketahui lebih dari seratus juta galaksi, yang masing-masing galaksi terdiri atas berjuta-juta bintang masing-masing serupa dengan matahari. Matahari kita yang adalah salah satu bintang di dalam galaksi Bima Sakti letaknya kira-kira 50 ribu tahun cahaya dari pusat galaksi Bima Sakti, sehingga tata surya kita bukan saja pusat alam raya melainkan juga bukan pusat galaksi Bima Sakti. Dengan menyadari kedudukan bumi terhadap galaksi Bima Sakti, yang ternyata juga bukan satu-satunya galaksi di alam raya kita dapat bertanya-tanya bagaimana alam raya ini dapat terbentuk.

2.2 Teori-teori tentang Pembentukan Alam Raya

2.2.1 Teori Materalisme

Seabad yang lalu, penciptaan alam semesta adalah sebuah konsep yang diabaikan para ahli astronomi. Alasannya adalah penerimaan umum atas gagasan bahwa alam semesta telah ada sejak waktu tak terbatas. Dalam mengkaji alam semesta, ilmuwan beranggapan bahwa jagat raya hanyalah akumulasi materi dan tidak mempunyai awal. Tidak ada momen “penciptaan”, yakni momen ketika alam semesta dan segala isinya muncul.

Gagasan “keberadaan abadi” ini sesuai dengan pandangan orang Eropa yang berasal dari filsafat materialisme. Filsafat ini, yang awalnya dikembangkan di dunia Yunani kuno, menyatakan bahwa materi adalah satu-satunya yang ada di jagat raya dan jagat raya ada sejak waktu tak terbatas dan akan ada selamanya. Filsafat ini bertahan dalam bentuk-bentuk berbeda selama zaman Romawi, namun pada akhir kekaisaran Romawi dan Abad Pertengahan, materialisme mulai mengalami kemunduran karena pengaruh filsafat gereja Katolik dan Kristen. Setelah Renaisans, materialisme kembali mendapatkan penerimaan luas di antara pelajar dan ilmuwan Eropa, sebagian besar karena kesetiaan mereka terhadap filsafat Yunani kuno.

Pada masa Pencerahan Eropa, Immanuel Kant menyatakan dan mendukung kembali materialisme. Kant menyatakan bahwa alam semesta ada selamanya dan bahwa setiap probabilitas, betapapun mustahil, harus dianggap mungkin. Pada awal abad ke-19, gagasan bahwa alam semesta tidak mempunyai awal, bahwa tidak pernah ada momen ketika jagat raya diciptakan secara luas diterima.

Dengan mempercayai kebenaran model “jagat raya tanpa batas”, Politzer menolak gagasan penciptaan dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie. Dia menulis: Alam semesta bukanlah objek yang diciptakan, jika memang demikian, maka jagat raya harus diciptakan secara seketika oleh Tuhan dan muncul dari ketiadaan. Untuk mengakui penciptaan, orang harus mengakui, sejak awal, keberadaan momen ketika alam semesta tidak ada, dan bahwa sesuatu muncul dari ketiadaan.

Ini pandangan yang tidak bisa diterima sains. Sains merupakan bukti bahwa jagat raya sungguh-sungguh mempunyai permulaan. Dan seperti yang dinyatakan Politzer sendiri, jika ada penciptaan maka harus ada penciptanya.

2.2.2 Teori Dentuman Besar ( Big Bang)

Tahun 1920-an adalah tahun yang penting dalam perkembangan astronomi modern. Pada tahun 1922, ahli fisika Rusia, Alexandra Friedman, menghasilkan perhitungan yang menunjukkan bahwa struktur alam semesta tidaklah statis dan bahwa impuls kecil pun mungkin cukup untuk menyebabkan struktur keseluruhan mengembang atau mengerut menurut Teori Relativitas Einstein. George Lemaitre adalah orang pertama yang menyadari apa arti perhitungan Friedman. Berdasarkan perhitungan ini, astronomer Belgia, Lemaitre, menyatakan bahwa alam semesta mempunyai permulaan dan bahwa ia mengembang sebagai akibat dari sesuatu yang telah memicunya. Dia juga menyatakan bahwa tingkat radiasi (rate of radiation) dapat digunakan sebagai ukuran akibat (aftermath) dari “sesuatu” itu.

Pemikiran teoretis kedua ilmuwan ini tidak menarik banyak perhatian dan barangkali akan terabaikan kalau saja tidak ditemukan bukti pengamatan baru yang mengguncangkan dunia ilmiah pada tahun 1929. Pada tahun itu, astronomer Amerika, Edwin Hubble, yang bekerja di Observatorium Mount Wilson California, membuat penemuan paling penting dalam sejarah astronomi. Ketika mengamati sejumlah bintang melalui teleskop raksasanya, dia menemukan bahwa cahaya bintang-bintang itu bergeser ke arah ujung merah spektrum, dan bahwa pergeseran itu berkaitan langsung dengan jarak bintang-bintang dari bumi. Penemuan ini mengguncangkan landasan model alam semesta yang dipercaya saat itu.

Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa menurut hukum ini, benda-benda luar angkasa menjauh dari kita. Tidak lama kemudian, Hubble membuat penemuan penting lagi; bintang-bintang tidak hanya menjauh dari bumi; mereka juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya kesimpulan yang bisa diturunkan dari alam semesta di mana segala sesuatunya saling menjauh adalah bahwa alam semesta dengan konstan “mengembang”.

Penemuan Hubble bahwa alam semesta mengembang memunculkan pernyataan jika alam semesta semakin besar sejalan dengan waktu, mundur ke masa lalu berarti alam semesta semakin kecil; dan jika seseorang bisa mundur cukup jauh, segala sesuatunya akan mengerut dan bertemu pada satu titik. Kesimpulan yang harus diturunkan dari model ini adalah bahwa pada suatu saat, semua materi di alam semesta ini terpadatkan dalam massa satu titik yang mempunyai “volume nol” karena gaya gravitasinya yang sangat besar. Alam semesta kita muncul dari hasil ledakan massa yang mempunyai volume nol ini. Ledakan ini mendapat sebutan “Dentuman Besar” dan keberadaannya telah berulang-ulang ditegaskan dengan bukti pengamatan.

Menurut Teori Dentuman Besar (Big Bang), permulaan alam raya ialah kabut zat yang memadat dan kemudian meledak menjadi banyak sekali galaksi yang kemudian mengembang saling menjauhi dengan kecepatan yang mahatinggi (Nasoetion, 1999).

Teori Dentuman Besar dengan cepat diterima luas oleh dunia ilmiah karena bukti-bukti yang jelas. Pada tahun 1948, George Gamov mengembangkan perhitungan George Lemaitre lebih jauh dan menghasilkan gagasan baru mengenai Dentuman Besar. Jika alam semesta terbentuk dalam sebuah ledakan besar yang tiba-tiba, maka harus ada sejumlah tertentu radiasi yang ditinggalkan dari ledakan tersebut. Radiasi ini harus bisa dideteksi, dan lebih jauh, harus sama di seluruh alam semesta.

Dalam dua dekade, bukti pengamatan dugaan Gamov diperoleh. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson menemukan sebentuk radiasi yang selama ini tidak teramati. Disebut “radiasi latar belakang kosmik“, radiasi ini tidak seperti apa pun yang berasal dari seluruh alam semesta karena luar biasa seragam. Radiasi ini tidak dibatasi, juga tidak mempunyai sumber tertentu; alih-alih, radiasi ini tersebar merata di seluruh jagat raya. Segera disadari bahwa radiasi ini adalah gema Dentuman Besar, yang masih menggema balik sejak momen pertama ledakan besar tersebut. Gamov telah mengamati bahwa frekuensi radiasi hampir mempunyai nilai yang sama dengan yang telah diperkirakan oleh para ilmuwan sebelumnya. Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka.

Pada tahun 1989, George Smoot dan tim NASA-nya meluncurkan sebuah satelit ke luar angkasa. Sebuah instrumen sensitif yang disebut “Cosmic Background Emission Explorer” (COBE) di dalam satelit itu hanya memerlukan delapan menit untuk mendeteksi dan menegaskan tingkat radiasi yang dilaporkan Penzias dan Wilson. Hasil ini secara pasti menunjukkan keberadaan bentuk rapat dan panas sisa dari ledakan yang menghasilkan alam semesta. Kebanyakan ilmuwan mengakui bahwa COBE telah berhasil menangkap sisa-sisa Dentuman Besar.

Ada lagi bukti-bukti yang muncul untuk Dentuman Besar. Salah satunya berhubungan dengan jumlah relatif hidrogen dan helium di alam semesta. Pengamatan menunjukkan bahwa campuran kedua unsur ini di alam semesta sesuai dengan perhitungan teoretis dari apa yang seharusnya tersisa setelah Dentuman Besar.

Dihadapkan pada bukti seperti itu, Dentuman Besar memperoleh persetujuan dunia ilmiah nyaris sepenuhnya. Dalam sebuah artikel edisi Oktober 1994, Scientific American menyatakan bahwa model Dentuman Besar adalah satu-satunya yang dapat menjelaskan pengembangan terus menerus alam semesta dan hasil-hasil pengamatan lainnya. Sebagai kesimpulan, kebenaran yang terungkap oleh ilmu alam adalah: Materi dan waktu telah dimunculkan menjadi ada oleh pemilik kekuatan besar yang mandiri, oleh Pencipta. Allah, Pemilik kekuatan, pengetahuan, dan kecerdasan mutlak, telah menciptakan alam semesta tempat tinggal kita (www.harunyahya.com)

2.3 Pandangan Islam tentang Pembentukan Alam Raya

Terjadinya alam raya difirmankan dalam Al- Quran surat Fussilat (41 : 11) yang artinya : “ Kemudian Ia merancang dari langit yang masih berbentuk asap dan berkata kepada langit dan kepada bumi : “Jadilah, engkau keduanya, secara sukarela atau terpaksa”. Maka Ia menciptkan dari tujuh langit dalam dua masa, dan memerintahkan dalam setiap langit terdekat dengan lampu-lampu dan pelindung-pelindung”.

Ayat yang dikutip tadi itu mengingatkan kita kembali akan terciptanya alam raya menurut Teori Dentuman Besar. Selain menjelaskan alam semesta, Teori Dentuman Besar mempunyai implikasi penting lain. Ilmu alam telah membuktikan pandangan yang selama ini hanya didukung oleh sumber-sumber agama.

Kebenaran yang dipertahankan oleh sumber-sumber agama adalah realitas penciptaan dari ketiadaan. Ini telah dinyatakan dalam kitab-kitab suci yang telah berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi manusia selama ribuan tahun. Dalam semua kitab suci seperti Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan Al Quran, dinyatakan bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan dari ketiadaan oleh Allah.

Dalam satu-satunya kitab yang diturunkan Allah yang telah bertahan sepenuhnya utuh, Al-Qur’an, ada pernyataan tentang penciptaan alam semesta dari ketiadaan, di samping bagaimana kemunculannya sesuai dengan ilmu pengetahuan abad ke-20, meskipun diungkapkan 14 abad yang lalu.

Pertama, penciptaan alam semesta dari ketiadaan diungkapkan dalam Al Quran sebagai berikut: “Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al An’aam, 6: 101)

Aspek penting lain yang diungkapkan dalam Al Quran empat belas abad sebelum penemuan modern Dentuman Besar dan temuan-temuan yang berkaitan dengannya adalah bahwa ketika diciptakan, alam semesta menempati volume yang sangat kecil: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al Anbiyaa’, 21: 30)

Terjemahan ayat di atas mengandung pemilihan kata yang sangat penting dalam bahasa aslinya, bahasa Arab. Kata ratk diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” yang berarti “bercampur, bersatu” dalam kamus bahasa Arab. Kata itu digunakan untuk merujuk dua zat berbeda yang menjadi satu. Frasa “Kami pisahkan” diterjemahkan dari kata kerja bahasa Arab, fatk yang mengandung makna bahwa sesuatu terjadi dengan memisahkan atau menghancurkan struktur ratk. Tumbuhnya biji dari tanah adalah salah satu tindakan yang menggunakan kata kerja ini.

Kebenaran lain yang terungkap dalam Al Quran adalah pengembangan jagat raya yang ditemukan pada akhir tahun 1920-an. Penemuan Hubble tentang pergeseran merah dalam spektrum cahaya bintang diungkapkan dalam Al Quran sebagai berikut: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesung-guhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. Adz-Dzaariyat, 51: 47)

III. PENUTUP

Pemikiran tentang alam raya pada awalnya hanya bersifat empiris yang didasarkan pada pengetahuan yang terbatas. Pada awalnya para ilmuwan beranggapan alam raya telah ada sejak waktu yang tak terbatas. Tidak ada proses penciptaan alam raya dan isinya muncul. Pada awal ke-20 sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan maka pemikiran tentang materialisme ini di bantah oleh para ilmuwan yang mengemukakan bahwa alam raya mempunyai permulaan. Hal ini didukung oleh kebenaran yang bersumber dari agama.

Singkatnya, temuan – temuan ilmu alam modern mendukung kebenaran yang dinyatakan dalam Al Quran dan bukan dogma materialis. Materialis boleh saja menyatakan bahwa semua itu “kebetulan”, namun fakta yang jelas adalah bahwa alam semesta terjadi sebagai hasil penciptaan Allah dan satu-satunya pengetahuan yang benar tentang asal mula alam semesta ditemukan dalam firman Allah yang diturunkan kepada kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: