POLA_PENJELASAN_ILMIAH


I. PENDAHULUAN

Manusia diciptakan dengan rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap segala sesuatu yang ada disekitarnya. Seorang anak usia balita, sering kali mengejutkan kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak diduga. Ia mungkin akan bertanya, mengapa gajah berbelalai? mengapa burung kakinya hanya dua? atau mengapa burung bisa terbang?. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kita dengar dari mulut anak-anak. Prilaku seperti ini adalah khas naluri manusia, yang sudah diberi alat berfikir dan bernalar, yaitu akal.

Naluri manusia yang ingin mengetahui ini juga yang ingin menemukan penjelasan tentang hal-hal yang baru yang diamatinya. Keingintahuan akan penjelasan yang benar inilah menurut Mohr (1977) yang menjadi cikal-bakal sains.

Bahwa naluri ini sesungguhnya harus dimanfaatkan oleh manusia tercermin di dalam surah Al-”Alaq (96):1-5 yang artinya kira-kira sebagai berikut:

” Bacalah atas nama Penciptamu; yang telah menciptakan manusia dari segumpal nutfah; bacalah! Dan Tuhanmu Sangat Pemurah; yang telah mengajarkan penggunaan kalam, mengajari manusia hal-hal yang belum diketahuinya”.

Kalau manusia ditugasi membaca, maka sebelum ia dapat membaca, harus tersedia dahulu bahan untuk dibaca. Bahan pertama yang tersedia untuk dibaca bukanlah buku yangtertulis atau tercetak, melainkan gejala-gejala alam dan sosial yang disuratkan oleh Kalam Tuhan di alam sekitar manusia itu. Oleh karena itu, sejak kecil manusia memiliki rasa ingin tahu mengapa sesuatu itu terjadi.Apabila sebagai anak kecil manusia bertanya hanya karena naluri, sesudah dewasa nalurinya itu apabila terlatih dengan baik, akan digunakannya untuk mencoba mencari keterangan mengenai hal-hal tertentu terjadi.

Apabila dalam perjalanannya menjadi dewasa manusia mendapat tekanan agar tidak bertanya-tanya, naluri ingin tahunya yang semasa kecil sering terungkapkan, menjadi tersembunyi setelah ia menjadi dewasa. Tekanan ini mungkin di dapatkan di rumah, di sekolah ataupun di kantor tempatnya bekerja. Larangan-larangan inilah yang jika diterapkan secara luas terhadap sembarang masalah membuat orang tidak berani lagi mengembangkan nalurinya untuk bertanya-tanya.

II. PEMBAHASAN

Di dalam kehidupan kita, banyak sekali hal-hal yang memerlukan jawaban ataupun penjelasan baik penjelasan secara sederhana maupun secara ilmiah. Keingintahuan anak-anak yang pola pikirnya masih sangat sederhana, biasanya diberikan jawaban-jawaban yang sederhana pula terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Seorang ibu yang menegur anaknya agar menghabiskan nasi di piringnya, sering mendapat pertanyaan, mengapa harus demikian, jawabannya bahwa nasi tidak boleh dibuang-buang karena butir nasi yang dibuang itu akan menangis tidak dimakan manusia. Dengan mengandalkan perasaan kasihan yang dapat dimunculkan pada diri anak itu, ibunya berhasil mendidiknya agar tidak membuang-buang nasi secara sia-sia. Perilaku itu kemudian akan mendarah daging sampai anak itu menjadi dewasa.

Pejelasan yang diterima dari ibunya, diperoleh melalui metode kewenangan dan diterimanya tanpa sampai pada pemahaman mengapa hal itu harus dilakukannya.. Penjelasan bagi manusia yang berfikir sederhana dengan demikian sebenarnya sama sekali tidak menjelaskan melainkan hanyalah penyebaran tahayul saja. Akan tetapi, penjelasan sederhana berupa takhayul sering sekali lebih tepat mengenai sasarannya. Gunung yang dikabarkan angker biasanya terpelihara hutannya, karena tidak ada manusia yang berani menebangnya.

Pola penjelasan ilmiah merupakan bentuk penjelasan yang sesuai dengan aturan ilmiah.

1. Empat Macam Penjelasan Ilmiah

Tugas kegiatan ilmiah ialah menyediakan penjelasan-penjelasan bersistem yang dapat dipertanggungjawabkan tentang berbagai permasalahan yang muncul. Penjelasan-penjelasan itu harus bersistem dan dapat dipertanggungjawabkan dalam artian bahwa langkah langkah penjelasannya harus mengikuti kaidah-kaidah tertentu yang telah disepakati. Menurut Nagel (1961), dalam garis besarnya terdapat empat macam pola penjelasan ilmiah, yaitu:

1. Model Deduksi

2. Penjelasan bercorak peluang

3. Penjelasan fungsional atau teleologik

4. Penjelasan genetik

Secara umum dapat dikatakan bahwa sebagai bahan untuk menjelaskan dalam suatu proses penjelasan digunakan satu atau lebih pernyataan umum yang dianggap benar dan satu atau lebih pernyataan umum itu. Pernyataan umum yang dipakai itu, dapat berupa data atau fakta tersendiri yang telah diamati itu. Hubungan-hubungan seperti itu dinamakan hukum pengalaman atau hukum empirik. Karena data yang diamati sebagai fakta itu serta hubungan-hubungan yang telah ditemukan antara berbagai fakta itu diamati pada keadaan-keadaan tertentu, maka keadaan-keadaan ini merupakan kendala yang menentukan kebenaran pernyataan umum itu.

Dari kumpulan pernyataan umum atau hukum empirik L1, L2, …., Lx, serta kumpulan kendala C1, C2, …., Cx sebagai kumpulan fakta penjelasan yang disebut juga eksplanans dengan menggunakan kaidah-kaidah deduksi kemudian diturunkanlah penjelasan E atau Eksplanandum yang diharapkan. Seluruh proses inilah yang dimaksud dengan penjelasan. Proses penjelasan seperti ini dinamakan Model Penjelasan Hempel-Oppenheim (Mohr, 1977) dan dapat digambarkan sebagai berikut:

L1, L2, …, Lx

) eksplanans

C1, C2, …, Cx

) penjelasan

————————————————————————-

E Eksplanandum

Gambar (1) Model Hempel-Oppenheim

Untuk proses penjelasan

Model Hempel-Oppenheim ini juga dapat digunakan untuk meramalkan apa yang akan terjadi kumpulan dan hukum L1, L2, …, Lx serta kumpulan kendala C1, C2, …., Cx, dijadikan premis untuk sampai pada ramalan P. Seluruh proses ini kemudian dapat disebut suatu peramalan. Polanya tergambar pada gambar (2) berikut:

L1, L2, … , Lx

) Premis

C1, C2, …, Cx

) Peramalan

————————————————————————-

P Ramalan

Gambar (2) Model Hempel-oppenheim

Untuk proses peramalan

Berikut kita perhatikan empat macam pola penjelasan ilmiah :

1.1. Model Deduksi

Dalam model deduksi, kumpulan hukum yang digunakan sebagai eksplanans sifatnya lebih umum dari pada eksplanandum, sedangkan eksplanandum sendiri adalah suatu akibat logis premis-premis penjelasan itu.Misalnya saja kita dapat bertanya, mengapa jumlah dua bilangan ganjil selalu genap. Sebagai premis dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan bilangan genap ialah bilangan-bilangan 0, 2, 4, …, 2n dan seterusnya, kalau n ialah bilangan asli, sedangkan yang dimaksudkan dengan bilangan ganjil ialah bilangan-bilangan 1, 3, 5, …, 2m+1 dan seterusnya, kalau m ialah biulangan asli. Selain itu pula telah dibatasi bahwa yangdimaksud dengan bilangan asli ialah bilangan-bilangan 1, 2, 3, 4, …, dan seterusnya.

Dengan mengingat kembali postulat aritmetika mengenai penjumlahan, melalui deduksi kita dapat menunjukkan bahwa sembarang bilangan ganjil 2p+1 apabila dijumlahkan dengan sembarang bilangan ganjil lain 2q+1 akan sama dengan 2(p+q)+2, suatu bilangan yanghabis dibagi oleh 2. Oleh karena itu, 2(p+q)+2 adalah bentuk umum suatu bilangan genap. Dengan demikian, terdapatlah penjelasan mengapa jumlah dua bilangan ganjil harus selalu genap.

1.2. Penjelasan Bercorak Peluang

Adakalanya premis yang digunakan sebagai penjelas apa yang hendak dijelaskan itu digunakan bukanlah suatu pernyataan yang secara mutlak berimplikasi kebenaran eksplanandum. Contohnya tentang hubungan antara perokok berat dengan kecenderungannya diserang penyakit. Data yang dikumpulkan ahli kesehatan masyarakat tentang penderita kanker paru-paru mengungkapkan bahwa kebanyakan penderita kanker paru-paru adalah perokok berat. Demikian pula, ditemukan bahwa, kebanyakan penderita penyempitan pembuluh darah adalah perokok berat yang sering bekerja dalam suasana yang tegang. Oleh karena itu sahihlah utnuk meramalkan dari kenyataan seseorang itu perokok berat, bahwa peluangnya untuk terkena penyakit paru-paru atau penyempitan pembuluh arteri sangatbesar. Walaupun kita tahu, di dalam sejarah Winston Churchill, seorangnegarawan Inggis yangmemimpin bangsanya melawan Jerman pada Perang Dunia Kedua adalah perokok cerutu yang berat namun dapat mencapai usia yang sangat lanjut.

Cara penjelasan atau meramal seperti itu dinamakan Penjelasan Bercorak Peluang karena dalam mengadakan deduksi itu sebenarnya telah digunakanjuga anggapan-anggapan awal yang bercorak peluang atau statistik. Dengan demikian, pola penjelasan ini sebenarnya jugamemanfaatkan proses induksi. Kelemahannya ialah bahwa ramalan yang diperoleh tidak selalu menjadi kenyataan.

1.3. Penjelasan Fungsional atau Teleologik

Penjelasan Fungsional merupakan penjelasan sesuai dengan fungsinya dan juga dapat menjadi dampak akhir dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Penjelasan secara Fungsional atau Teleologik ini sering digunakan dalam ilmu hayat dan kemanusianaan. Misalnya, menurut hubungan sebab akibat, kita mencoba menerangkan suatu kejadian atas dasar kejadian lain yang telah terjadi sebelumnya. Kita misalnya mengatakan bahwa manusia berkeringat akibat pengusahaan pemantapan suhu tubuh atau bahwa mantapnya suhu tubuh manusia adalah akibat berkeringatnya manusia. Akan tetapi berdasarkan penjelasan teleologi kita akan mengatakan bahwa kegunaan berkeringat pada manusia adalah agar suhu tubuh menjadi mantap.

Contoh lain, misalnya mengenai peristiwa melanisme industri yang terjadi di Inggis dengan ngengatBiston Betularia. Sampai pertengahan abad ke sembilanbelas, ngengat Biston di Inggris hanya diketahui berwarna kelabu, yang mirip dengan warna lumut kerak yang tumbuh pada kulit batang pepohonan, sehingga sukar diamati oleh burung pemangsa. Di sekitar tahun 1850 mulai muncul mutant yang berwarna hitam.akan tetapi hidupnya tidak lama, karena cepat dapat dimangsa burung. Setelah revolusi industrimelanda Inggris, asap pabrik yangmencemarkan udara juga mengubah warna permukaan batang pepohonan. Ngengat hitam lebih sulit diamati oleh burung pemangsa dari pada ngengat kelabu. Akibatnya, lebih banyak ngengat kelabu yang dimangsa sehingga populasi ngengat didominasi oleh subspisies Carbonaria. Dipandangdari segi teleologi dapat dikatakan bahwa fungsi mutasi ialah menyelamatkan kelangsungan hidup makhluk hidup. Akan tetapi, dipandang dari segi biologi molekuler, mutasi hanyalah suatu akaibat ketidakstabilan zat pembentuk enzim di dalam tubuh makhluk hidup saja.

1.4. Penjelasan Genetik

Penjelasan Genetik merupakan penjelasan mengenai pewarisan atau turunan. Cara penjelasan seperti ini, biasanya dilakukan dalam penelaahan yang berkaitan dengan sejarah. Misalnya kita bertanya, mengapa bangsa Indonesia menggunakan bahasa ibu suku bangsa Melayu yang merupakan kelompok kecil sebagai inti bahasa nasional, dan bukanmenggunakan bahasa ibu yang digunakan sebagian besar orang di nusantara, yaitu bahasa Jawa. Dari segi penjelasan genetik mungkin dapat dikemukakan bahwa bahasa Melayu adalah inti bahsa-bahasa daerah yang terdapat di Indonesia dan memang sudah sejak dahulu kala digunakan sebagai bahssa pengantar antara pendatang dan penduduk setempat ketika mengadakan berbagai transaksi kemasyarakatan di daerah pantai seluruh wilayah kepulauan kita.

2. Hukum pengalaman dan teori

Pemikiran ilmiah bertolak dari permasalahan yangdilihat oleh pengalaman dan kejadian yang dijumpaisehari-hari. Melalui pemikiran ini hendak diusahakan pemahaman, mengapa hal-hal tersebut terjadi dengan menemukan berbagai keteraturan kejadian-kejadian yang telah diamati tersebut.

Bahkan suatu teori kemudian dapat digunakan maramalkan munculnya suatu kejadian baru. Sebagai teladan mengenai hal ini, dapat dikemukakan peramalan adanya suatu planet ke delapan setelah Uranus yang mengitari matahari. Ramalan itu muncul, karena telah diamati adanya penyimpangan gerakan-gerakan planet Uranus dari hukum gravitasi Newton dan ketika hukum gerakan planet kepler, yang tidak dapat diterangkan oleh pengaruh daya tarik Saturnus, Yupiter dan planet-planet lainnya. Ternyata planet ke delapan itu ditemukan pada tahun 1846 oleh Observatorium Berlin dan dinamakan Neptunus (Britannica, 1982) . Tidak mustahil pada suatu ketika dengan matematika yang lebih rumit orang dapat menemukan lagi penyimpangan gerakan planet Neptunus dan Pluto dan meramalkan adanya suatu planet baru lagi di pinggiran tata surya kita.

III. KESIMPULAN

Dalam upaya menjelaskan berbagai gejala dan kejaadian, seorang ilmuan memanfaatkan :

1. Pengamatan atau perubahan yang dilakukan dengan hati-hati

2. Laporan tentang keteraturan-keteraturan yang telah ditemukan olehnya atau ilmuan kita.

3. Teori-teori yang telah disusun secara bersistem

Laporan penemuan keteraturan-keteraturan apabila sesuai dengan kenyataan dapat digunakan sebagai hukum pengalaman yang mengungkapkan hubungan-hubungan antara berbagai gejala atau kejadian yang diamati. Hukum-hukum ini digunakan sebagai penjelas untuk menyusun teori ilmiah, yaitu sebagai kerangka pemikiran yang berlaku umum sebagai hasil penalarannya, yang kemudian digunakan lagi menerangkan berbagai hukum empirik yang telah diamatinya dan meramalkan berbagai kejadian yang mungkin terjadi apabila persyaratan-persyaratan untuk teorinya itu terpenuhi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: