TANGGUNG_JAWAB_ILMUWAN

TANGGUNG JAWAB ILMUWAN TERHADAP MASA DEPAN UMAT MANUSIA

I. PENDAHULUAN

Bumi adalah salah satu planet tata surya yang sampai sekarang diakui memiliki bentuk-bentuk kehidupan terlengkap. Mahkluk di bumi yang paling sempurna adalah manusia, karena kemampuan berpikir dan bernalar itu pula yang membuat manusia menemukan berbagai pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu kemudian digunakan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari lingkungan alam sekitar kita. Akan tetapi sering pula kita temukan dan terapkan agar mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari teknologi yang kita hasilkan itu menimbulkan pengaruh sampingan yang menimbulkan kemudaratan.

Misalnya saja penggunaan api untuk membakar sisa tumbuhan pada waktu seorang peladang membuka hutan sangat membantu tetapi kemudaratannya ialah bahwa api itu akhirnya menghasilkan kebakaran hutan yang tidak terkendalikan. Teknologi sederhana seperti itu mudah tampak kemudaratannya dalam waktu yang pendek. Lain halnya dengan berbagai teknologi canggih yang dampak buruknya tidak segera tampak atau baru baru tampak kalau ditinjau secara menyeluruh dengan melintasi batas-batas kenegaraan.

Tidak banyak yang cepat sadar bahwa industri berat akan mengakibatkan pencemaran lingkungan dengan logam-logam berat yang membahayakan pertumbuhan manusia di masa depan. Dan betapa banyak pula orang yang cepat tanggap bahwa hal-hal seperti itu akan mengakibatkan perubahan musim dan percepatan peredaran bumi di sekitar matahari yang menyebabkan bumi letaknya makin mendekat ke matahari karena gaya melontar ke luar dari putarannya melemah. Akibat mendekatnya bumi ke matahari ini juga lambat laun suhu bumi akan naik dan mengakibatkan lapisan es di kedua kutub akan mencair sehingga terjadi penaikan permukaan air laut ? berapa banyak daerah pantai dan daerah pasang surut yang telah direklamasi sebagai pemukiman baru terpaksa harus ditinggalkan lagi sehingga orang harus bermukim di daerah pegunungan? Apa akibatnya kalau daerah pegunungan lebih banyak lagi hutan yang harus ditebang? Apakah tidak akan terjadi pergeseran kesetimbangan daur air dan daur karbondioksida dan apakah tidak akan terjadi pengikisan tanah yang lebih hebat lagi hingga kesetimbangan kerak bumi terganggu dan mengakibatkan munculnya gempa bumi tektonik yang kemudian dapat pula menimbulkan keretakan-keretakan di sepanjang lipatan lereng daratan yang saling mendorong, yang satu lidahnya adalah tempat munculnya berbagai pulau tanah air kita tercinta ini? Apakah menggiatnya kembali gunung api lama dan terbentuknya kepundan-kepundan baru tidak ada kaitannya akan hal itu?

Malapeta akibat sampingan penerapan ilmu sebagai teknologi sering sekali menyebabkan orang awam menyalahkan ilmuwan sebagai sumber munculnya kerusakan di bumi ini. Kerusakan akibat dampak negatif teknologi ini kemudian sering pula dikaitkan dengan makin mendekatnya hari kiamat, seperti dahulu tahun 1957 ada orang yang menganggap Uni Sovyet menempatkan satelit Sputnik di ruang angkasa sebagai pertanda akan datangnya hari akhir untuk bumi kita ini.

II. Keterhunian Bumi Berlandaskan Kesetimbangan

Berlainan dengan di kebanyakan planet lain di tatasurya kita dan di alam raya, bumi mempunyai atmosfer yang sedang dan dapat mendukung kehidupan. Lapisan gas yang meliputi bumi menjadi lapisan pelindung dan pendukung kehidupan, terutama lapisan terbawah setebal 12 hingga 18 km yang disebut troposfer. Troposfer ini mengandung 21% oksigen, bahan untuk pernapasan makhluk hidup, dan 78% nitrogen yang menjadi bahan baku berbagai zat yang diperlukan agar tanah yang dipermukaan bumi dapat ditumbuhi oleh tumbuhan. Selain troposfer juga mengandung sedikit gas karbondioksida yang memainkan peran penting salam pengikatan energi surya menjadi energi kimia melalui proses asimilasi oleh tumbuhan hijau. Selain itu troposfer juga mengandung air dalam berbagai bentuk dan secara berkala mengalami suatu daur ulang dari udara ke daratan, ke perairan terbuka, dari perairan terbuka menguap lagi ke udara, dan dari udara berkondensasi lagi dalam bentuk air hujan, es, atau salju sehingga turun kembali ke bumi.

Selain daur ulang air ini, seperti telah disinggung sebelumnya, karbondioksida juga mengalami daur ulang melalui asimilasi oleh tumbuhan hijau dan pembakaran dalam bentuk makanan oleh hewan dan manusia. Daur ulang pada nitrogen dalam bentuk gas menjadi mineral yang dapat diserap oleh tumbuhan dan kemudian dijadikan protein nabati yang dapat digunakan sebagai sumber protein hewani. Pembusukan protein nabati maupun hewani akan mengembalikan nitrogen itu menjadi bentuk gas di troposfer. Kesemua daur ulang air, karbon, dan nitrogen itu kelangsungannya sangat tergantung pada berbagai kesetimbangan dan keserasian hubungan ketergantungan antara berbagai faktor abiotik atau tak hidup dan faktor biotik hidup, di dalam ekosistem.

III. Gangguan Kesetimbangan Kehidupan di Bumi

Ada dua jenis pengaruh yang dapat menjadi sumber malapetaka kehidupan di bumi. Pengaruh pertama asalnya dari luar bumi kita ini, sedangkan pengaruh kedua dapat berasal dari bumi kita sendiri. Kehidupan di bumi didukung oleh sumber energi yang berasal dari matahari. Sinar surya ini bukan saja menjadi pemasok energi kimia untuk proses asimilasi yang menghasilkan karbohidrat sebagai pendukung seluruh kehidupan dibumi. Sinar surya itu juga salah satu sumber pemanas di bumi dan salah satu sumber penggerak berbagai daur ulang. Kalau energi surya mulai habis, bukan saja tidak terjadi asimilasi oleh tumbuhan, melainkan juga matahari sedang dalam proses untuk menjadi bintang yang dingin. Hal itu adalah pertanda bahwa pada suatu ketika gaya gravitasi di dalam matahari itu akan menarik semua zat ke dalam sehingga terjadi suatu keruntuhan. Ini suatu kiamat yang menyangkut tatasurya kita saja.

Sebelum terjadi kiamat itu, juga menjadi kenyataan bahwa peredaran bumi di sekitar matahari akan melalui lintasan yang jaraknya semakin abad semakin menciut, sehingga waktu beredar menjadi secara lengkap akan berkurang dari 365.25 hari untuk satu edaran lengkap. Hal itu berarti pula bahwa jarak bumi dari matahari akan mengecil sehingga energi surya yang sampai ke bumi akan bertambah dan mempengaruhi kesetimbangan energi secara keseluruhan. Suhu bumi akan meningkat sehingga iklim bumi dan keadaan hidrologinya akan berubah.

Pengaruh kedua yang bersumber dari bumi kita sendiri pada umumnya dapat dikatakan berupa pergeseran berbagai kesetimbangan. Pergeseran-pergeseran seperti ini muncul karena daya dukung bumi terhadap seluruh kehidupan yang bergantung padanya menjadi menciut. Penciutan daya dukung ini kemudian menghebat karena dalam keadaan daya dukung yang menciut akan muncul kerusakan-kerusakan yang lebih berat lagi karena usaha-usaha manusia sendiri untuk memperbesar daya dukung itu. Sumber dari penciutan daya dukung bumi itu ialah meningkatnya populasi penduduk di muka bumi ini yang sebenarnya adalah akibat keberhasilan teknologi kesehatan masyarakat.

Grafik pertambahan penduduk dunia dari tahun ke tahun dapat diamati pada grafik berikut:

Tahun

Banyaknya Penduduk dalam

Milyar*)

1600

ó

0.5

1830

óó

1

1930

óóóó

2

1960

óóóóóó

3

1975

óóóóóóóó

4

(1987)

óóóóóóóóóó

5

2000

óóóóóóóóóóóó

6

*) satu ó mewakili 0,5 milyard orang

Pertambahan penduduk dunia ini menuntut penemuan teknologi baru dengan sasaran pertambahan produksi hasil pertanian untuk keperluan sandang dan pangan, perluasan jaringan komunikasi, perluasan daerah pemukiman dan perluasan kawasan industri. Di satu pihak diperlukan lebih banyak lahan usaha pertanian. Di pihak lain banyak lahan usaha pertanian, terutama yang letaknya dengan tempat pemusatan penduduk, dan oleh karena tinggi tingkat sesuburannya, harus dijadikan kawasan pemukiman, industri, jalan raya lintas cepat dan sarana administrasi.

Karena itu lahan usaha pertanian terpaksa tergeser ke tanah-tanah yang tadinya dihutankan karena tingkat kesuburannya yang rendah. Untuk memantapkan daya produksinya lahan-lahan baru harus dipupuk dengan berat agar dapat menghasilkan secara memadai, serta dilindungi dari serangan hama dan penyakit bukan saja menggunakan metode biologi melainkan dengan penggunaan insektisida, rodentisida, fungisida dan herbisida, yang tidak lain adalah suatu keberhasilan teknologi kimia.

Dapat diperkirakan bahwa usaha-usaha untuk memenuhi keperluan penduduk yang bertambah ini akan meningkatkan pencemaran lahan oleh zat kimia bahan baku pupuk serta bahan baku insektisida, fungisida dan herbisida yang adalah dampak negative teknologi yang ingin menyelamatkan umat manusia dari bahaya kelaparan. Selain itu juga pengawetan tanah akan menjadi lebih sulit karena daerah yang tadinya dianggap rawan erosi sekarang sudah dimasukkan ke dalam kegiatan usaha tani. Bertambahnya daerah pemukiman mengurangi kawasan hutan dan menimbulkan wajah permukaan bumi yang baru. Iklim sekarang dapat lebih panas dan kering.

IV. Daya Keterhunian Bumi Oleh Manusia

Bagi manusia bumi ini adalah suatu sistem penunjang kehidupan yang sangat besar dan terdiri atas berbagai komponen bumi yang menjadi penunjang kehidupan manusia ini dalam garis besarnya ialah lahan, lautan, atmosfer dan kehidupan makhluk hidup secara keseluruhan di muka bumi ini.

Ada lima unsur permasalahan yang saling kait mengait yang menentukan daya keterhunian bumi ini untuk manusia di masa depan. Masing-masing permasalahan itu untuk penyelesaiannya memerlukan unsur-unsur sains yang berbeda akan tetapi saling menunjang. Unsur-unsur permasalahan itu ialah:

1. Masalah perimbangan energi di bumi secara menyeluruh

2. Daur hidrologi di bumi secara menyeluruh

3. Perubahan biogeokimia

4. Perubahan bentuk dan sifat permukaan bumi

5. Produktivitas biologi pada lahan di bumi

Permasalahan-permasalah itu timbul karena ilmuwan dan teknologiwan berbagai Negara bekerja menerapkan pengetahuannya tidak untuk kepentingan seluruh umat manusia melainkan untuk kepentingan sebagian penduduk bumi saja.

V. Kesetimbangan Energi Global

Setiap tahun energi surya yang sampai ke tepi luar atmosfer, yaitu homosfer, ada sebanyak rata-rata 263 ribu Langley. Satu langlay sama dengan 1 gram kalori persentimeter kuadrat, seangkan 1 gram kalori ilah banyaknya energi panas yang diperlukan untuk meningkatkan suhu 1 g air dari 14.50C menjadi 15.50C. dari energi sebanyak ini kira-kira 123 ribu langlay atau 47% di resap atau dipantulkan kembali keluar atmosfer bumi oleh molekul-molekul, uap air, dan debu, sedangkan sisanya sebanyaknya kira-kira 140 ribu Langley atau 53% sampai ke permukaan bumi.

Energi yang sampai ke satu meter kuadrat permukaan bumi dalam sehari rata-rata setara dengan banyaknya energi yang diperlukan seorang manusia aktif sepanjang hari. Masukan energi yang sangat banyak ini merupakan potensi yang dapat digunakan hewan atau tumbuhan. Akan tetapi radiasi matahari yang sampai ke bumi tidak seragam. Terjadinya keragaman yang disebabkan oleh tingkat keberawanan, banyaknya debu dalam atmosfer, garis lintang, ketinggian, bentuk permukaan bumi setempat, musim dan waktu terjadinya penyinaran pada hari tertentu. Banyaknya energi yang diterima di daerah kutub selama setahun misalnya 1/8 hingga 1/10 banyaknya energi yang diterima di daerah tropik.

Dari radiasi yang sampai ke bumi hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan untuk pertumbuhan tumbuhan melalui fotosintesis. Dari energi surya yang sampai ke bumi hanyalah sinar yang bergelombang 0.4 – 0.7 mikron yang berguna bagi fotosintesis. Dari seluruh energi surya yang sampai ke tepi luar atmosfer itu akhirnya hanya 1 hingga 2% yang dapat dimanfaatkan untuk fotosintesis. Banyaknya ini sama dengan kira-kira 3% dari seluruh energi surya yang sampai ke permukaan bumi.

Energi surya yang sampai ke bumi sebagian dipantulkan kembali ke atmosfer. Banyaknya tergantung pada bentuk permukaan bumi itu, apakah licin seperti permukaan perairan bebas, ataukah di tutupi oleh vegetasi tumbuhan ataukah pula daerah pemukiman, sebagian lagi digunakan untuk menggerakkan udara dalam bentuk angin dan memindahkan panas, serta pula memindahkan air dalam perdauran air. Sebagian lagi digunakan pula dalam proses evapotranspirasi, yaitu penguapan air melalui permukaan tumbuhan. Kalau semuanya ini disusun dalam bentuk suatu rumus akan kita peroleh model sebagai berikut:

R(i) = radiasi yang sampai ke permukaan bumi

R(o) = radiasi yang dikembalikan ke atmosfer dari permukaan bumi

ET = panas yang dipindahkan secara vertical dari permukaan bumi ke atmosfer melalui konveksi

G = panas yang disimpan di permukaan bumi

P = energi foton elektromagnetik yang diubah menjadi energi kimia pada fotosintesis oleh tumbuhan hijau

F = energi yang digunakan untuk pemindahan energi secara mendatar

Banyaknya energi yang sampai ke permukaan bumi mengalami suatu perubahan bentuk dengan demikian sama dengan :

R(i) – R(o) = ET + H + G + P + F

Komponen R(o) sangat tergantung pada daya pantul, daya memancarkan cahaya, dan suhu permukaan bumi. Permukaan yang gundul tanpa vegetasi akan meningkatka pemantulan ini dan menaikkan suhu atmosfer dan mengubah iklim menjadi lebih kering, sehingga permukaan bumi akhirnya semakin tandus lagi. Hal seperti ini misalnya diperkirakan terjadi digurun Sahel.

Kalau R(o) membesar, selisih energi yang dapat dimanfaatkan bumi, yaitu yang dilambangkan oleh bagian kiri persamaan (2) menjadi kecil. Selisih ini dibagi-bagi menjadi komponen-komponen di bagian kanan persamaan (2). Komponen ET melambangkan evapotranspirasi, yaitu seluruh proses fisik dan fisiologi pemindahan panas dari tanah, tumbuhan, dan permukaan perairan yang menguapkan air yang jatuh ke permukaan bumi. Pengurangan energi untuk komponen ini melambatkan daur air ke atmosfer sehingga membuat iklim menjadi lebih kering dan vegetasi terlambat tumbuhnya. Bahkan bentuk vegetasi yang dapat tumbuh mungkin dapat berubah. Hutan hujan tropis dapat berubah menajdi padang rumput atau bahkan gurun pasir.

Kalau vegetasi berkurang, panas yang dirasakan dan kemudian dipancarkan secara vertical ke atas dari permukaan bumi akan bertambah dan membuat atmosfer bertambah panas. Uap air yang ada di atmosfer tidak dapat mengembun dan berkumpul menjadi lapisan awan yang menimbulkan efek rumah kaca bersama karbondioksida yang dihasilkan dari proses pembakaran hutan serta minyak dan gas bumi yang berasal dari kegiatan industri dan transportasi.

Komponen G adalah bagian panas yang disimpan di dalam kulit bumi. Pada siang hari banyaknya meningkat dan pada malam hari akan turun kembali, asal saja udara di atas permukaan bumi mendingin. Kalau atmosfer tidak mendingin, panas yang tersimpan itu tidak akan dipancarkan kembali ke atmosfer dan kulit bumi akan meningkat suhunya yang berakibat lebih banyaknya lapisan es di kedua kutub bumi melelh dan mengakibatkan permukaan perairan bebas naik dan menggenangi daratan yang lebih rendah.

Komponen P ialah energi yang disimpan di dalam fotosintesis sebagai energi kimia. Keadaan-keadaan sebelumnya yang membuat fotosintesis berkurang mengakibatkan terjadinya kekurangan persediaan pangan, sandang, dan papan bagi manusia, sedangkan kegiatan mengubah karbondioksida di udara melalui fotosintesis menjadi oksigen terhambat. Kadar oksigen udara berkurang dan kadar karbondioksida meningkat. Meningkatnya kadar karbon dioksida udara sekarang ini memang sudah menjadi kenyataan.

Berkurangnya energi matahari yang dapat dimanfaatkan di bumi karena meningkatnya pemantulan kembali ke atmosfer membuat perbedaan-perbedaan suhu berbagai tempat tidak terlalu jelas. Akibatnya pertukaran udara secara horizontal dan vertikal tidak terlalu baik sehingga di tempat-tempat tertentu susunan udara dapat menjadi berbeda. Akan ada tempat-tempat dengan susunan udaranya mengandung gas-gas yang dapat bersifat racun terhadap kehidupan. Hal itu semua dapat terjadi karena perambahan vegetasi hutan secara besar-besaran untuk menghasilkan kayu atau penyediaan tempat pemukiman baru.

VI. Daur Hidrologi

Sekarang ini manusia sudah menguasai teknologi untuk mengubah keadaan hiodrologi lingkungannya. Di Jedah pemerintahan kota membuat saluran-saluran dari air laut jauh ke daratan untuk membentuk danau-danau air asin jauh di belakang garis pantai. Maksudnya agar menimbulkan kelembaban udara di daratan yang diharapkan dapat mengubah iklim mikro sehingga suasana terasa akan lebih nyaman. Tidak diketahui apa akibatnya apabila danau-danau buatan di belakang garis pantai itu lambat laun menjadi bertambah tinggi kadar garamnya.

Pola hidrologi lingkungan pola sebaran curah hujan sangat menentukan keproduktifan lahan pertanian. Karena itu sejak dahulu kala seperti dalam kebudayaan Mesopotamia, manusia berusaha mendatangkan air ke lahan-lahan kering agar daya produksi lahan itu dapat meningkat. Air yang didatangkan ini akhirnya melalui evapotranspirasi diuapkan kembali ke atmosfer sambil menggunakan energi panas sehingga adanya vegetasi di daratan juga membantu mengendalikan suhu lingkungan. Bertambahnya populasi manusia yang mengakibatkan pengubahan sebagian hutan dan lahan produksi pertanian menjadi pusat-pusat pemukiman dapat mengubah pola hidrologi ini dan membuat air menjadi langka.

Kelangkaan air ini akhirnya membuat manusia mencoba memanfaatkan air tanah dengan menggunakan sumur-sumur dalam yang dapat berakibat runtuhnya lapisan tanah atas dan terjadinya intrusi air laut jauh masuk kedaratan di belakang garis pantai. Gejala ini kemudian akan membuat lahan menjadi lebih tandus lagi karena vegetasi di atas lahan yang menjadi asin itu berkurang. Akibatnya evapotranspirasi berkurang dan suhu lingkungan naik sehingga hal-hal ini kemudian membuat lingkungan itu bertambah kering dan tandus lagi.

VII. Daur Biogeokimia

Keterhunian bumi oleh makhluk hidup selain ditentukan oleh adanya air, juga ditentukan oleh adanya daur ulang berbagai unsur kimia sumber pendukung kehidupan. Ada kira-kira 40 unsur yang diperlukan bagi kehidupan, akan tetapi yang terpenting diantaranya ialah karbon (C), nitrogen (N), fosfor (P), belerang (S), oksigen (O), kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na), silicon (Si), besi (Fe) dan alumunium (Al). Sumber unsur-unsur ini ialah atmosfer untuk misalnya C, N dan O serta sedimen-sedimen hasil pelapukan batuan. Selain itu sebagian unsur-unsur ini tersimpan dalam bentuk bahan organic dalam tubuh makhluk hidup yang masih hidup atau yang sudah mati. Setelah membusuk, unsur yang terkandung dalam bahan organic itu akan dikembalikan ke dalam tanah atau ke udara.

Daur karbon terjadi melalui terjadinya fotosintesis dan pernapasan secara silih berganti. Pada ketika terjadi fotosintesis dengan bantuan energi surya dan butir hijau daun, karbondioksida dari udara diikat menjadi karbohidrat oleh tumbuhan dan hewan, kadang-kadang setelah dalam strukturnya ditambahkan unsur N, P dan atau S. Proses asimilasi ini menghasilkan oksigen yang dikembalikan ke atmosfer. Pengembalian karbon ke atmosfer dalam bentuk karbondioksida terjadi kalau makhluk hidup itu bernapas yang tidak lain ialah suatu usaha mendapatkan energi dengan membakar karbohidrat di dalam tubuh. Selain itu juga karbondioksida dihasilkan dan dikembalikan ke udara melalui pembakaran bahan organic fosil seperti minyak dan gas bumi. Kegiatan-kegiatan seperti ini akhir-akhir ini menunjukkan bertambahnya kadar karbondioksida udara yang mengakibatkan perubahan suhu dan mungkin juga iklim, karena lapisan karbondioksida di atmosfer dapat bekerja seperti sekat yang menghalangi pemancaran panas dari bumi ke luar atmosfer. Peningkatan kadar karbondioksida ini dapat pula dibantu oleh berkurangnya vegetasi tumbuhan di permukaan bumi yang disebabkan kegiatan manusia yang membuka hutan untuk dijadikan lahan kegiatan kehidupan yang sama sekali tidak menopang pengikatan karbondioksida dan penghasilan oksidasi dan penghasilan oksigen.

Daur nitrogen dari udara ke tanah dan tumbuhan dipengaruhi pada berbagai tahap selain oleh adanya ledakan-ledakan listrik di atmosfer, juga oleh kegiatan jasad renik secara tersendiri ataupun bekerjasama dengan tumbuhan polongan. Selain itu sekarang secara sintetik nitrogen dari udara dapat diikat menjadi garam amonium, sedangkan dari limbah energi fosil dapat diproduksi urea. Kekurangan garam nitrogen di dalam tanah dapat mengakibatkan lahan menjadi kurus dan tidak dapat menopang pertumbuhan vegetasi tumbuhan penghasil oksigen dan pengikat karbondioksida. Karena itu ketersediaan nitrogen di dalam tanah sangat erat hubungannya dengan daya produksi lahan dan berpengaruh pula terhadap kaar karbondioksida di atmosfer bumi. Kebalikannya, pemupukan pertanaman dengan pupuk N buatan dapat menimbulkan adanya efek sampingan yang menghasilkan denitrifikasi dari garam-garam ammonium dan nitrat serta dari pupuk urea yang digunakan untuk meningkatkan daya produksi lahan. Pada proses denitrifikasi yang berlangsung di bawah pengaruh berbagai jasad renik ini akan dihasilkan nitro-oksida atau N2O yang setelah sampai di batas luar homosfer dapat mengoksidkan ozon menjadi oksigen dan mempertipis lapisan ozon pelindung bumi dari sinar-sinar lewat-ungu.

Fosfor di dalam tanah terdapat dalam berbagai bentuk fosfat. Pengubahannya ke dalam bentuk yang dapat diresap akar tumbuhan hijau banyak sekali dibantu oleh kegiatan jasad renik. Adanya kebakaran hutan dapat meningkatkan fosfor tersedia bagi tumbuhan, karena kebakaran itu mengubah senyawa fosfat dari bentuk organik menjadi bentuk takorganik yang mudah dimanfaatkan oleh tumbuhan hijau. Akan tetapi peningkatan kadar fosfor dapat diserap tumbuhan dapat mengakibatkan peningkatan pengubahan nitrogen organic menjadi nitrogen mineral yang dapat diserap tumbuhan tetapi juga mudah terbawa larut oleh air atau diubah bentuknya menjadi gas nitrogen yang tidak ada manfaatnya bagi vegetasi tumbuhan.

Pembakaran bahan organik juga akan melepaskan belerang dari bentuk organik menjadi garam sulfat yang dapat diresap tumbuhan. Akan tetapi juga belerang masuk sebagai limbah yang mencemarkan atmosfer dengan menambah kedalamnya oksida belerang melalui pembakaran bahan baker fosil seperti minyak bumi dan batubara. Salah satu akibatnya ialah hujan asam.

VIII. Daya Produksi Lahan

Daya produksi lahan adalah suatu faktor yang sangat menentukan daya dukung lingkungan terhadap kehidupan manusia, betapa majunya pun manusia itu menguasai teknologi di bidang lain. Besarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor iklim seperti suhu dan presipitasi cahaya yang diterima pada permukaan bumi, ketersediaan unsur-unsur kimia utama seperti C, S, P, N, K, Ca dan sebagainya serta sifat-sifat khas kehidupan yang dikembangkan pada lahan itu. Segera setelah banyaknya manusia pada suatu lingkungan melebihi daya produksi lahan terhadap semua keperluan dasar manusia, akan muncul usaha-usaha menaikkan daya produksinya itu dengan menggunakan teknologi. Pancausaha misalnya ialah suatu jawaban untuk meningkatkan daya produksi lahan agar kita di Indonesia dapat berswasembada pangan. Usaha penemuan varietas-varietas unggul yang mempunyai tingkat keefisienan tinggi menyadap energi surya menjadi bahan organik pada keadaan pemeliharaan dan pemupukkan yang intensif adalah latar belakang keberhasilannya. Akan tetapi juga keadaan iklim dan ketersediaan unsur hara dapat dipengaruhi oleh tumbuhan yang berkembang pada lahan itu. Sudah menjadi pengetahuan umum misalnya bahwa penanaman ketela pohon terus-menerus pada suatu lahan tertentu akan menguras habis unsur hara yang terkandung di dalamnya.

Demikian pula suatu lahan yang dihijaukan kembali dengan tusam pada suatu ketika akan bersifat asam dan tidak dapat mendukung pertumbuhan semak-semak di bawah tajuk hutan tusam itu. Dengan demikian pengubahan susunan vegetasi yang disengaja dari suatu kesetimbangan alami menuju ke suatu kesetimbangan dengan tujuan meningkatkan daya produksi lahan bagi manfaat manusia memerlukan masukan pupuk untuk memantapkan kesuburan dan pestisida untuk perlindungan tanaman. Hal itu berarti suatu perubahan daur biogeokimia secara sengaja yang mungkin akan menggeser berbagai kesetimbangan alami lainnya dan dapat menimbulkan malapetaka yang tidak terduga, seperti misalnya munculnya hama wereng, kutu loncat dan penyakit jamur pada ikan.

IX. Perubahan Pola Penggunaan Lahan Secara Global

Di tempat-tempat pemusatan kegiatan penduduk dan perekonomian akan muncul pemukiman-pemukiman yang padat penduduk berupa metropolis dengan gedung-gedung pencakar langit. Pemusatan-pemusatan penduduk seperti itu akan menghasilkan pencemaran. Atmosfer di atasnya akan mengandung kadar karbondioksida dan asam belerang yang lebih tinggi, sedangkan iklim setempat pun akan berubah. Berbagai lahan yang tadinya ditutupi hutan lebat berubah menjadi lahan pertanian sedangkan lembah-lembah berubah menjadi danau-danau buatan untuk keperluan pengairan dan pembangkit tenaga listrik.

Perubahan-perubahan bentuk dan fungsi permukaan lahan ini karena pertambahan penduduk memaksakan diterapkannya teknologi hasil pemikiran manusia untuk mengatasi permasalahan masakini. Akan tetapi usaha ini dapat berakibat timbulnya masalah baru di masa depan. Perubahan-perubahan itu dapat mempengaruhi iklim dan daur unsur hara yang kemudian dapat pula mengubah daya produk tivitas lahan. Hanya saja belum jelas apakah misalnya perubahan iklim yang terasa sekarang memang semata-mata akibat campurtangan manusia terhadap kesetimbangan alam ataukah bagian dari daur perubahan alami dalam semesta ini.

Yang jelas, pemindahan massa bumi secara besar-besaran seperti pembangunan berbagai struktur bangunan pencakar langit dan munculnya getaran-getaran yang disebabkan percobaan-percobaan yang dilakukan manusia dengan tenaga nuklear mungkin saja menjadi faktor tambahan yang mempercepat perubahan kemiringan sumbu putar bumi atau memperlambat rotasinya. Perlambatan rotasi walaupun terasa baru setelah beberapa abad kemudian, membantu membuat peredaran bumi disekitar matahari menjadi lebih pendek yang juga mengakibatkan bumi akan bertambah dekat letaknya ke matahari. Hasilnya ialah peningkatan kuantitas energi surya yang diterima oleh bumi yang mengakibatkan suhu atmosfer di sekitar bumi naik. Suhu yang naik ini dapat mengakibatkan perubahan produktivitas lahan dan perubahan iklim serta banjir-banjir akibat mencairnya selaput es di kutub utara dan selatan. Perubahan kemiringan sumbu putar bumi terhadap matahari dapat mengakibatkan bumi pada suatu ketika mempunyai arah perputaran yang sama dengan apa yang terjadi dengan planet venus. Matahari akan terbit di barat dan terbenam di ufuk timur. Hal itu dalam agama Islam dipercaya sebagai pertanda bahwa hari kiamat sudah dekat seperti tercantum dalam dua Sabda Nabi Muhammad SAW berikut :

“Tidaklah akan tiba hari kiamat itu sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya”.

“Sesungguhnya tanda-tanda pertama yang menunjukkan mendekatnya hari kiamat ialah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya suatu hewan di hadapan orang banyak sewaktu duha. Mana diantara kedua tanda itu yang keluar lebih dahulu akan disusul oleh tanda lainnya dengan segera”.

Siapa tahu bahwa hari kiamat itu di bumi justru akan timbul dipercepat karena ulah manusia yang serakah ingin menguasai dunia ini dengan mencetuskan perang nuklear. Menarik sekali juga ialah pernyataan bahwa sebagai tanda bumi akan mengalami kiamat akan muncul suatu hewan dihadapan orang banyak. Kita akan bertanya-tanya apa makna pernyataan ini. Apakah manusia ada yang begitu turun derajatnya sehingga perilakunya sudah seperti hewan akibat rekayasa genetika yang tidak terkendalikan? Wallahu’alam! Hanya Allah SWT yang maha mengetahui. Kita sebagai manusia hanya boleh berusaha agar kita dan anak cucu kita jangan sampai turun martabatnya berupa hewan karena godaan-godaan kesenangan hewani membuat kita lupa dan menggunakan sains dan teknologi tanpa mengingat kepentingan sesama manusia.

X. PENUTUP

Ilmuwan sebagai manusia yang diberi kemampuan merenung dan menggunakan pikirannya untuk bernalar. Kemampuan berpikir dan bernalar itu pula yang membuat kita sebagai manusia menemukan berbagai pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu kemudian digunakan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari lingkungan alam yang tersedia di sekitar kita. Oleh karena itu tanggung jawab ilmuwan terhadap masa depan kehidupan manusia diantaranya adalah :

1. Tanggung Jawab Profesional terhadap dirinya sendiri, sesama ilmuwan dan masyarakat, yaitu menjamin kebenaran dan keterandalan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dibuatnya secara formal. Agar semua pernyataan ilmiah yang dibuatnya selalu benar dan memberikan tanggapan apabila ia merasa ada pernyataan ada pernyataan ilmiah yang dibuat ilmuwan lain yang tidak benar.

2. Tanggung Jawab Sosial, yaitu tanggung jawab ilmuwan terhadap masyarakat yang menyangkut asas moral dan etika. Pengalaman dua perang dunia I (terkenal dengan perang kuman) dan II (terkenal dengan bom atom) telah membuktikan bahwa ilmu digunakan untuk tujuan-tujuan yang destruktif.

3. Sikap Politis Formal Ilmuwan

Jika ilmuwan mempunyai rasa tanggung jawab moral dan sosial yang formal, maka konsekuensinya ilmuwan harus mempunyai sikap politik formal. Sebab sikap politik formal merupakan konsisten dengan asas moral keilmuan serta merupakan pengejawantahan/implementasi dari tanggung jawab sosial dalam mengambil keputusan politis, dimana keputusan ini bersifat mengikat (authorative).

Kewajiban batiniah seorang ilmuwan ialah memberikan sumbangan pengetahuan baru yang benar saja ke kumpulan pengetahuan benar yang sudah ada, walaupun ada tekanan-tekanan ekonomi atau sosial yang memintanya untuk tidak melakukan hal itu, karena tanggung jawabnya ialah memerang ketidaktahuan, prasangka dan mitos di kalangan manusia mengenai alam semesta ini.

Adapun pedoman kerja yang disepakati dan harus diikuti para ilmuwan ialah :

1. Bekerjalah dengan jujur

2. Jangan sekali-sekali memanipulasi data

3. Selalulah bertindak tepat, teliti dan cermat

4. Berlakulah adil terhadap pendapat orang lain yang muncul terlebih dahulu

5. Jauhilah pandangan berbias terhadap data dan pemikiran ilmuwan lain

6. Jangan berkompromi tetapi usahakanlah menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan tuntas.

7. Perlunya Etika dan Ketaatan Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa (Andi : 1999 : 31)

Hal itu juga sejalan dengan asas moral menurut Yuyun (1984 : 93), yaitu :

1. Kebenaran

2. Kejujuran

3. Tidak mempunyai kepentingan

4. Menyandarkan diri pada kekuatan argumentasi dalam menilai kebenaran

Kebenaran ilmiah yang dihasilkan dari pemikiran dan pengamatan seorang ilmuwan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh umat manusia. Hal itu berarti perlunya kode etik ilmuwan. Mau tidak mau kode etik itu harus dikaitkan dengan sistem ‘dosa’. Setiap kali seorang ilmuwan akan mengadakan penelitian, ia harus sadar akan kedudukannya sebagai manusia di bumi ini. Artinya ia harus sadar bahwa ilmu pengetahuan yang dimilikinya hanya sebagian kecil saja dari Al’ilmi-nya Allah SWT dan bahwa ia hanyalah pesuruh-Nya di muka bumi ini (Al Baqarah : 30-34).

Demi pertanggungan jawaban ilmuwan terhadap masa depan umat manusia, semua dampak negatif sains dan teknologi terus ditangani secara bersama-sama, bukan saja oleh masyarakat ilmuwan dunia, melainkan juga oleh pemerintah semua negara, berlandaskan suatu pandangan bahwa manusia di bumi ini mempunyai tugas untuk mengelolanya dengan sebaik-baiknya.

Hal-hal yang harus dilakukan manusia adalah :

1. Mengadakan kerjasama ilmuwan dan ahli teknologi berbagai negara dalam menerapkan pengetahuannya demi kepentingan seluruh umat manusia.

2. Perlunya pembangunan yang berorientasi masa depan dan wawasan lingkungan. Diantaranya :

v Untuk mengantisipasi tingginya angka natalitas penduduk dunia, perlunya pembatasan melalui program keluarga berencana melalui program PBB.

v Menghindari pembangunan yang berwawasan efek rumah kaca

v Pembangunan dengan berorientasi analisis dampak lingkungan (amdal)

v Peningkatan kesadaran hidup sehat melalui program peningkatan mutu penduduk dan perbaikan gizi masyarakat.

v Optimalisasi lahan produktif melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian

v Program reboisasi lahan gundul, penghentian penggundulan dan pembakaran hutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: